Kamis 22 Mar 2012 20:06 WIB

Tolak Kenaikan BBM, Gabungan Mahasiswa Sisir DPRD Jateng

Rep: Qommarria Rostanti/ Red: Chairul Akhmad

REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG - Gabungan elemen mahasiswa yang tergabung dalam POROS Semarang yang terdiri dari GMNI, PMII, HMI MPO-GMKI, SMI dan KAMMI sepakat menolak rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

 

Mahasiswa menyisir gedung DPRD Jateng dan memaksa fraksi-fraksi yang ada di gedung tersebut untuk ikut menandatangani piagam penolakan. Aksi ratusan mahasiswa ini pun sempat ricuh.

Mahasiswa terlibat adu dorong dengan pihak kepolisian hingga menyebabkan pintu gerbang kompleks kantor gubernuran di Jalan Pahlawan Semarang nyaris ambruk. Mahasiswa menginginkan seluruh fraksi yang ada di DPRD Jateng turun menemui mereka dan bersedia ikut menolak rencana kenaikan harga BBM.

Pengunjukrasa juga sempat membakar boneka sebagai bentuk kekesalan mereka. Beberapa saat kemudian, sejumlah perwakilan dari fraksi-fraksi akhirnya turun menemui pendemo. Di antaranya Fraksi Gerindra yang diwakili oleh Sekretaris Fraksi, Dwi Yasmanto, Ketua Fraksi PPP, Istajib AS, Fraksi PAN diwakili oleh Jayus, Fraksi Demokrat oleh Yeni Sudiyono dan anggota lainnya. Mereka kemudian menandatangani piagam penolakan rencana kenaikan BBM.

Di hadapan mahasiswa, Istajib mengatakan fraksinya telah sepakat untuk ikut menolak kenaikan harga BBM. Bahkan, kata dia, fraksinya juga telah melayangkan surat penolakan tersebut kepada presiden. "Kami sudah membuat surat dan akan kami kirim ke presiden langsung untuk menunda kenaikan harga BBM bersubsidi," ujarnya di depan Gedung DPRD Jateng, Kamis (22/3).

Hal senada diungkapkan Dwi Yasmanto. Ia mengatakan, secara nasional partainya sudah menentukan sikap untuk menolak rencana kenaikan BBM tersebut. Ia menyatakan partainya akan memperjuangkan tuntutan rakyat karena kenaikan BBM akan menambah deretan kemiskinan di negara ini. Anggota DPRD sebagai wakil rakyat dan kepanjangan tangan masyarakat, kata Dwi, berfungsi menyerap kemauan masyarakat. "Kalau masyarakat tidak mau naik, ya sebaiknya tidak naik," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement