Rabu 03 Aug 2011 14:01 WIB

Eh...Pedagang Umbi Ingin Berjualan di Lingkar Nagreg, Bisa Tidak?

Pedagan ubi cilembu (Ilustrasi)
Foto: Bisnis Jabar
Pedagan ubi cilembu (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG - Sebagian pedagang umbi Cilembu khususnya yang berjualan di sebelah timur jalur Nagreg berharap bisa berjualan di jalur Lingkar Nagreg yang akan dioperasikan pada H-10 Lebaran 2011.

"Beberapa teman pedagang memang merencanakan bisa berjualan di sana saat musim arus mudik dan balik Lebaran Idul Fitri 1432 H, tapi masih dibicarakan," kata Ny Neneng seorang pedagang ubi cilembu di Nagreg, Rabu (3/8).

Para pedagang itu mengaku kuatir jualan mereka tidak laku. Pasalnya ketika Lingkar Nagrek dibuka, diberlakukan satu arah pada musim mudik dan balik mendatang.

Pada saat diberlakukan satu arah, pada kedagang khususnya yang berjualan di sebelah selatan jalan Nagreg kemungkinan tidak banyak mendapatkan pembeli saat arus mudik. Arus lalu lintas dari arah timur dialirkan melalui Jalur Lingkar Nagreg.

"Lahannya memang ada dan bisa pakai berjualan, kalau memaksakan di tempat saat ini bisa-bisa nggak laku," katanya.

Umbi Cilembu merupakan salah satu ubi khas di kawasan Nagreg yang sering menjadi oleh-oleh bagi warga yang pulang kampung termasuk saat Lebaran. Lokasi Nagreg itu juga biasanya dipakai tempat beristirahat pengemudi.

Jalur Lingkar Nagreg memang memiliki beberapa ruas jalan yang terdapat lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk berjualan.

Dipertimbangkan

Sementara itu Gubernur Jawa Barat, H Ahmad Heryawan, ketika dimintai tanggapannya saat peninjauan ke Lingkar Nagreg bersama Menteri PU Joko Kirmanto menyatakan akan berupaya memfasilitasinya. Namun pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak PU Bina Marga.

"Bila memungkinkan boleh-boleh saja, namun jelas perlu koordinasi dulu dengan Bina Marga, apa memungkinkan atau tidak," kata Gubernur Heryawan.

Kehadiran pedagang ubi dan makanan di Lingkar Nagreg dipastikan memberikan keutungan bagi warga untuk berjualan di sana. Namun di sisi lain keberadaan pedagang memungkinkan ketersendatan arus lalu lintas bila kawasan itu digunakan sebagai tempat peristirahatan pengguna jalan.

"Idealnya memang tidak ada aktifitas perdagangan di jalur lingkar Nagreg karena akan menimbulkan ketersendatan arus lalu lintas di sana, namun biasanya ada saja yang membuka jualan di sana terlebih memanfaatkan moment Lebaran," kata Pejabat Pembuat Komitmen Pembangunan Jalan Lingkar Nagreg, Haryono.

Haryono menyebutkan, tanjalan Lingkar Nagreg memiliki karakter sebagai tanjakan cukup panjang dan membutuhkan konsentrasi dari pengemudi saat melintasinya. "Jalur itu direkomendasikan dilintasi dengan kecepatan maksimal 60 kilometer per jam," kata Haryono menambahkan.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement