Kamis 17 Sep 2026 10:25 WIB

Jurnalis Peliput Perang Rawan Terkena PTSD

Jurnalis yang hendak meliput perang diharapkan mempersiapkan diri sebelum berangkat.

 Asisten Profesor di Akademi Kepolisian Turki Estace Cinizz memberikan penjelasan materi tentang Psikologi dalam Perang di Ankara, Rabu (17/9/2026).
Foto: Teguh Republika
Asisten Profesor di Akademi Kepolisian Turki Estace Cinizz memberikan penjelasan materi tentang Psikologi dalam Perang di Ankara, Rabu (17/9/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Jurnalis peliput perang rawan terkena gangguan stres pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorder/PTSD). Gangguan itu seperti susah tidur atau tenggelam dalam bayangan halunisansi.

Asisten Profesor di Akademi Kepolisian Turki Estace Cinizz mengatakan, jurnalis, polisi maupun tentara yang terlibat dalam perang mudah terkena PTSD. Bagi wartawan, kondisi itu lebih berisiko jika mereka tidak melakukan persiapan.

Baca Juga

"Sebelum meliput perang kita harus punya keyakinan yang kuat, persiapan cukup dan rutin berolahraga," ujar Estace Cinizz saat memberiikan materi dalam kegiatan War Journalism Training seperti dilaporkan jurnalis Republika dari Ankara, Rabu (16/5/2026).

Cinizz lantas menceritakan kisah dari jurnalis Irak yang terkena penyakit pascatrauma itu. Setelah meliput perang di Irak, sang wartawan selalu merasa seperti 'dipukuli' selepas bangun tidur. Jurnalis itu bahkan kerap berteriak dan melompat tanpa sebab seperti kondisi di perang.

Dalam salah satu studi, kata ia, 38 persen jurnalis mengalami penyakit pascatrauma setelah perang. "Mereka yang terkena PTSD ini tentu tidaklah mudah, harus menjalankan terapi," ujarnya.

Terapi tersebut, kata ia, tergantung seberapa parah terdampak pascatrauma itu. Jika berat, maka harus meminum obat-obatan yang diresepkan oleh dokter. "Dampaknya bisa seumur hidup," ujarnya.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi