REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA -- Jurnalis diminta untuk tetap memegang prinsip tegas saat meliput di medang perang. Prinsip dimaksud yakni mengabarkan berita, foto maupun video berdasarkan fakta, bukan hasil editan.
Demikian disampaikan Hasan Ay, Direktur Pemberitan Anadolu Agency saat memberikan pembekalan di War Journalism Training Program di Ankara, Rabu (16/9/2026).
"Kita harus pastikan foto yang dikirimkan itu bukan editan, dan harus tahu bagaimana cara mendapatkanya," ujar Hasan Ay.
Hasan mengatakan, AA mempunyai satu moto tegas. Moto dimaksud yakni, apa yang dikirimkan oleh AA adalah fakta. "Dalam kondisi luar biasa seperti perang, kita harus lebih punya usaha ekstra untuk mengikuti prinsip ini," ujarnya.
Hasan Ay melanjutkan, hal penting pertama jurnalis sebelum berangkat meliput perang adalah dengan mempersiapkan diri. Seminim apapun waktu tersisa, hurnalis harus mengetahui, region atau wilayah yang akan dituju. Pun dengan kontak-kontak yang berada di sana.
Ia lantas mencontohkan kasus Ketika AS meninggalkan Afghanistan pada 2021 lalu setelah 20 tahun berada di sana. Kondis kaos begitu terasa, terutama di bandara Kabul yang menjadi tujuan utama untuk keluar dari negara tersebut.
Anadolu yang mengirimkan reporter ke Afghanistan mendapatkan berita dan gambar-gambar eksklusif dari lokasi tersebut setelah melakukan kontak-kontak orang di sana. "Kita minta wartawan di sana untuk tetap berjaga di bandara," ujarnya.
Contoh lain adalah bagaimana AA mengabarkan berita tentang bencana yang terjadi pada 2023 di Turki-Suriah. Puluhan ribu orang meninggal dalam bencana hebat tersebut. Jurnalis AA disebut menjadi salah satu yang terdepan dalam mengabarkan berita dalam kejadian memilukan itu.
Hasan mengakui, terkadang jurnalis mengalami 'dualisme' saat peliputan. Apakah harus ikut dalam penyelamatan korban atau terus mengambil gambar. Kondisi-kondisi harus dicermati betul saat meliput di kondisi bencana maupun perang.
"Kita melakukan pemeriksaan ulang berita atau gambar yang dipublikasikan hal yang sifatnya privasi, termasuk foto-foto berdarah itu tidak diperkenankan," ujarnya.
Hasan juga menekankan pentingnya dukungan institusi media yang mengirim jurnalisnya ke medan perang. Dukungan seperti logistik maupun kontak-kontak menjadi hal yang sangat penting. "Kita tak biarkan mereka sendiri," katanya.
Pelatihan "War Journalism Training Program" resmi dibuka di markas kantor berita Turki, Anadolu Agency di Ankara, Senin (14/9/2026). Pelatihan jurnalisme perang ini merupakan yang ke-30 dengan tujuan agar para jurnalis mempunya bekal meliput di zona perang, area bencana dan kedaruratan lainnya.
Lihat postingan ini di Instagram




