Kamis 17 Sep 2026 14:01 WIB

Puluhan Swarm Goyang Pengalengan, Apakah Pertanda akan Terjadi Gempa Besar di Bandung?

Peristiwa swarm menunjukkan aktivitas deformasi dan pelepasan tegangan di kerak bumi.

Rep: Muhammad Fauzi Ridwan/ Red: Andri Saubani
Gempa bumi (ilustrasi)
Foto: Antara/M Risyal Hidayat
Gempa bumi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), terdapat puluhan kali gempa di kawasan Pangalengan dan sekitarnya sejak Rabu (16/9/2026), beberapa di antaranya dirasakan masyarakat. Aktivitas tersebut masih berlangsung hingga Kamis (17/9/2026) pagi, salah satunya gempa magnitudo 2,6 pada pukul 04.59 WIB yang berlokasi di darat sekitar 23 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung dengan kedalaman tiga kilometer. 

Menurut ahli dari Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono aktivitas gempa swarm di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, tidak dapat diartikan sebagai pertanda pasti akan terjadi gempa bumi berkekuatan besar.

Baca Juga

"Swarm tidak selalu berarti gempa akan terus membesar. Sebagian rangkaian swarm dapat mereda secara bertahap," katanya di Bandung, Kamis.

Daryono menjelaskan earthquake swarm merupakan rangkaian gempa yang terjadi berulang dalam suatu kawasan dan periode tertentu tanpa satu gempa utama (mainshock) yang secara jelas mendominasi rangkaian tersebut. Menurut dia, kemunculan swarm menunjukkan adanya aktivitas deformasi dan pelepasan tegangan di kerak bumi, tetapi fenomena tersebut dapat berkaitan dengan pergeseran sesar maupun aktivitas vulkanik atau hidrotermal.

"Pola swarm harus dibaca berdasarkan data seismologi secara terus-menerus, bukan berdasarkan jumlah gempa semata," ujarnya.

Daryono mengatakan Pangalengan berada di wilayah Jawa Barat bagian selatan dengan kondisi deformasi kerak bumi yang kompleks dan berdekatan dengan sistem Sesar Garsela (Garut Selatan), salah satu struktur sesar aktif yang memiliki aktivitas seismik di Jawa Barat.

Ia menambahkan gempa dengan sumber relatif dangkal dapat menghasilkan guncangan yang terasa cukup kuat meski magnitudonya kecil, sementara kondisi geologi setempat juga dapat memengaruhi tingkat guncangan yang dirasakan masyarakat.

Daryono mengimbau masyarakat tidak panik, namun tetap meningkatkan kesiapsiagaan dengan memastikan kondisi bangunan, mengamankan perabot yang mudah jatuh, serta memahami prosedur drop, cover, and hold on ketika guncangan terjadi.

"Karena itu, masyarakat tidak perlu mengaitkan setiap peningkatan aktivitas gempa swarm dengan kemungkinan terjadinya gempa besar. Yang terpenting adalah tetap waspada dan mengikuti informasi resmi," katanya.

Ia mengingatkan kesiapsiagaan perlu mencakup potensi bahaya sekunder, seperti longsor, sehingga masyarakat di sekitar Pangalengan perlu terus mengikuti informasi resmi dan perkembangan aktivitas gempa dari BMKG.

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi