Selasa 21 Jul 2026 19:46 WIB

Waspada, Daerah-Daerah Ini Berpotensi Kekeringan Hingga Oktober

BMKG menyatakan telah mengirimkan laporan potensi kekeringan ke Presiden.

Rep: Muhammad Noor Alfian Choir/ Red: Fitriyan Zamzami
Warga Kampung Cibeber Hilir, Desa Giriasih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat mengalami kesulitan air bersih karena sumur mulai mengering akibat kemarau.
Foto: Ferry Bangkit Rizky/Republika
Warga Kampung Cibeber Hilir, Desa Giriasih, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat mengalami kesulitan air bersih karena sumur mulai mengering akibat kemarau.

REPUBLIKA.CO.ID, Jakarta — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memetakan sejumlah wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan selama musim kemarau 2026. Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Supari, mengatakan potensi tersebut diperkirakan terjadi pada periode Juli hingga Oktober.

Supari mengatakan wilayah yang diprediksi terdampak meliputi Sumatera bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta Papua bagian barat dan selatan.

Baca Juga

“Wilayah-wilayah ini menurut prediksi BMKG dalam periode Juli sampai dengan Oktober akan mengalami kondisi curah hujan yang rendah sehingga berpotensi menimbulkan kekeringan,” kata Supari saat diwawancarai Republika, Selasa (21/7/2026).

BMKG meminta pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah tersebut meningkatkan kewaspadaan serta melakukan langkah antisipasi sejak dini untuk mengurangi dampak musim kemarau.

“Secara reguler setiap 10 hari, 10 hari sekali, BMKG juga mengeluarkan yang disebut dengan Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis. Ini berupa surat yang berisi identifikasi wilayah-wilayah yang akan mengalami kekeringan dalam 10 hari ke depan, dan surat ini dikirimkan kepada para gubernur pada wilayah yang terdampak, dan itu kita update setiap 10 hari,” katanya.

BMKG mengingatkan sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi mengalami kondisi lebih kering dari normal pada puncak musim kemarau 2026. Kondisi tersebut dipicu menguatnya fenomena penghangatan permukan laut El Nino yang diperkirakan mencapai kategori kuat.

photo
Foto udara permukiman dan hamparan pasir di pinggir Sungai Batanghari yang surut di Tanjung Pasir, Danau Teluk, Jambi, Sabtu (18/7/2026). Sungai terpanjang di Sumatera itu mulai menyusut dan memunculkan hamparan pasir hingga seluas lima hektare lebih di sejumlah titik meliputi Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, dan Batang Hari akibat kemarau yang terjadi sejak dua bulan terakhir. - (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Supari, mengatakan indikasi kekeringan sudah terlihat sejak Juni 2026 ketika 51 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal.

“Untuk awal Juli itu sudah 70 persen. 70 persen wilayah Indonesia mengalami kondisi curah hujan yang di bawah normal. BMKG memprediksi di bulan Agustus, September itu lebih dari 80 persen, jadi antara 80 sampai 90 persen wilayah Indonesia akan mengalami kondisi curah hujan yang di bawah normal,” kata Supari.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga September, sementara dampak kekeringan masih dapat dirasakan hingga Oktober bahkan November di sejumlah wilayah.

“Sehingga ini perlu diantisipasi oleh seluruh lapisan masyarakat. Ini yang menjadi indikasi juga mengapa BMKG menyampaikan bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih kering dari biasanya,” kata Supari.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi