Senin 06 Jul 2026 10:35 WIB

Mengapa Musuh-Musuh Dunia Selalu Bertemu di Turki?

Turki jadi penghubung Eropa dan Asia, pintu masuk Laut Hitam ke Timur Tengah.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Presiden Turki Erdogan.
Foto: EPA-EFE/NECATI SAVAS
Presiden Turki Erdogan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Di saat Rusia dan Ukraina masih saling menyerang, delegasi kedua negara beberapa kali justru duduk satu meja di Istanbul. Ketika hubungan Rusia dan NATO berada pada titik terendah sejak Perang Dingin, para pemimpin aliansi Atlantik Utara tetap harus memperhitungkan sikap Ankara.

Bahkan ketika Amerika Serikat bersitegang dengan Iran dan terus bersaing dengan Rusia, Washington tetap berusaha menjaga hubungan erat dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Di tengah dunia yang semakin terbelah, ada satu negara yang justru menjadi titik temu hampir semua pihak yang berkonflik: Turki.

Baca Juga

Turki bukan sekadar anggota NATO. Negara ini adalah penghubung Eropa dan Asia, pintu masuk Laut Hitam, tetangga langsung Timur Tengah, sekaligus satu dari sedikit negara yang masih bisa berbicara dengan Washington, Moskow, Kyiv, Teheran, dan negara-negara Arab pada saat bersamaan. Kombinasi geografis, kekuatan militer, energi, perdagangan, dan diplomasi membuat Ankara menjadi simpul geopolitik yang sulit digantikan.

Pentingnya posisi Turki bahkan tercermin dari sikap Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Saat menerima Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte di Oval Office, Gedung Putih, menjelang KTT NATO di Ankara, Trump menyebut kehadirannya di Turki berkaitan langsung dengan permintaan Erdogan.

"Dia menelepon saya. Dia berkata, 'Tolong, KTT ini diselenggarakan di Turki. Anda harus hadir. Amerika Serikat harus hadir.' Karena menghormati Presiden Erdogan, saya memutuskan datang," kata Trump, Rabu, 25 Juni 2026, sebagaimana diberitakan Anadolu Agency dan sejumlah media internasional.

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa bagi Washington, Erdogan bukan sekadar pemimpin negara sekutu, melainkan tokoh yang memiliki pengaruh langsung dalam kalkulasi diplomasi Amerika Serikat.

Nilai strategis Turki paling jelas terlihat dalam perang Rusia-Ukraina. Saat jalur diplomasi antara Moskow dan Kyiv nyaris tertutup, Istanbul justru menjadi salah satu tempat perundingan awal kedua pihak pada 2022.

Turki juga memfasilitasi Black Sea Grain Initiative, kesepakatan yang sempat membuka kembali ekspor gandum Ukraina melalui Laut Hitam. Ankara beberapa kali pula menjadi jalur pertukaran tahanan antara Rusia dan Ukraina. Meski tidak mampu menghentikan perang, Turki berhasil menjaga satu hal yang semakin langka: ruang bicara antara dua negara yang sedang saling menghancurkan.

Peran itu tidak muncul tiba-tiba. Turki memiliki posisi unik karena mendukung Ukraina, tetapi tidak memutus hubungan dengan Rusia. Ankara menjual drone Bayraktar kepada Kyiv, namun Erdogan tetap berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Turki mengecam dampak perang, tetapi tidak sepenuhnya mengikuti garis keras Barat terhadap Moskow. Posisi ganda inilah yang membuat Ankara tetap bisa diterima oleh kedua pihak, meski keduanya saling curiga.

 

sumber : Xinhua
Berita Lainnya

Rekomendasi