Sabtu 26 Sep 2026 07:41 WIB

Trump Terjepit 40 Hari Jelang Pemilu, Masalah Datang dari Partainya Sendiri

Perang Iran dan tingginya biaya energi mulai membebani kandidat Republik.

Rep: Erdy Nasrul/ Red: Erdy Nasrul
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam keterangan pers di Gedung Putih, Senin (31/8/2026).
Foto: EPA/Annabelle Gordon
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam keterangan pers di Gedung Putih, Senin (31/8/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kurang dari enam pekan menuju pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS), Presiden Donald Trump menghadapi persoalan yang tidak seluruhnya datang dari Partai Demokrat. Tanda-tanda kegelisahan semakin terlihat di dalam Partai Republik sendiri ketika sejumlah kandidat dan anggota Kongres mulai berbeda sikap dengan Gedung Putih mengenai perang Iran, ekonomi, hingga isu yang seharusnya menjadi fokus kampanye.

Situasinya belum dapat disebut sebagai pemberontakan terbuka terhadap Trump. Presiden AS itu masih memiliki pengaruh kuat di kalangan pemilih Republik. Namun, sejumlah perkembangan menjelang pemilu 3 November menunjukkan sebagian politikus Republik mulai menghitung risiko elektoral dari kebijakan dan gaya politik presiden.

Baca Juga

Tekanan tersebut terlihat dari tiga arah sekaligus. Angka penerimaan publik terhadap Trump melemah, perang Iran dan tingginya biaya energi mulai membebani kandidat Republik, sementara sejumlah politikus partai itu secara terbuka meminta Trump mengembalikan perhatian pada persoalan ekonomi yang langsung dirasakan pemilih.

Salah satu peringatan paling terbuka datang dari anggota DPR AS asal South Dakota, Dusty Johnson. Berbicara kepada Jake Tapper di CNN pada Kamis (24/9/2026), Johnson menolak anggapan bahwa peluang Republik sudah berakhir, tetapi memperingatkan partainya mengenai pentingnya fokus menjelang hari pemungutan suara.

“Saya pikir banyak orang sudah mengubur peluang Partai Republik dalam pemilu November. Menurut saya, 40 hari sebelum pemilu masih terlalu dini untuk mengatakan demikian,” kata Johnson kepada CNN.

Johnson kemudian mengungkap persoalan yang menurutnya harus diperhatikan partainya. Peluang Republik, kata dia, akan jauh lebih baik jika pembicaraan diarahkan pada perbatasan, langkah konkret mengenai keterjangkauan biaya hidup, serta sejumlah isu sosial.

Namun, Johnson mengatakan keadaan dapat berbalik apabila Trump dan Republik justru sibuk dengan kontroversi yang tidak berkaitan langsung dengan kebutuhan pemilih. Ia menyebut Lake Ontario, Reflecting Pool, dan perselisihan mengenai apakah CNN dapat menjadi bagian dari kelompok wartawan peliput presiden.

“Jika sebaliknya kita berbicara tentang Lake Ontario dan Reflecting Pool, serta tentang apakah CNN seharusnya menjadi bagian dari pool, saya pikir peluang Partai Republik akan jauh lebih buruk,” ujar Johnson.

Ia kemudian menyampaikan kalimat yang menggambarkan kegelisahannya menjelang November. “Partai Republik membutuhkan disiplin pesan karena ada cerita yang bisa disampaikan,” kata Johnson.

Bukan Johnson Seorang

Kritik Johnson menjadi lebih penting ketika ditempatkan dalam gambaran yang lebih luas. Ia bukan satu-satunya politikus Republik yang mulai menunjukkan perbedaan dengan Trump ketika pemilu semakin dekat.

Axios pada 22 September melaporkan anggota Partai Republik di Kongres semakin berani berbeda dengan Trump mengenai kebijakan luar negeri dan persoalan yang menyentuh kantong masyarakat. Media Amerika itu menggambarkan fenomena tersebut bukan sebagai pemberontakan besar terhadap Trump, melainkan upaya sebagian politikus Republik menciptakan jarak dari presiden ketika kekhawatiran elektoral meningkat.

Tekanan harga bahan bakar menjadi salah satu pemicunya. Senator Republik Chuck Grassley dari Iowa dan Dan Sullivan dari Alaska, bersama anggota DPR Ashley Hinson dan Mariannette Miller-Meeks, termasuk politikus yang mendesak pembatasan ekspor diesel untuk menekan biaya yang ditanggung petani dan pengemudi truk Amerika.

Berita Lainnya

Rekomendasi