Stadhuis van Batavia (Balai Kota Batavia) adalah bangunan bersejarah di jantung Kota Tua Jakarta yang kini berfungsi sebagai Museum Sejarah Jakarta
Foto: AI
Stadhuis van Batavia (Balai Kota Batavia) adalah bangunan bersejarah di jantung Kota Tua Jakarta yang kini berfungsi sebagai Museum Sejarah Jakarta
Stadhuis van Batavia (Balai Kota Batavia) adalah bangunan bersejarah di jantung Kota Tua Jakarta yang kini berfungsi sebagai Museum Sejarah Jakarta (AI)
Red: Karta Raharja Ucu

Jakarta Menuju 500 Tahun

Senin 22 Jun 2026 10:10 WIB
Oleh: Almarhum Alwi Shahab

REPUBLIKA.CO.ID, ”Jakarta adalah kota yang mempesona,” tulis Adolf Heyken SJ, sejarawan Jerman dalam buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta. Sebagai kota pelabuhan, Jakarta bercorak internasional sejak masih disebut Sunda Kelapa. Orang dengan latar belakang kebudayaan, warna kulit, dan keyakinan agama yang berbeda-beda bertemu di bandar ini sejak berabad-abad lamanya. Bermacam-macam bahasa terdengar di pelabuhan, dalam kantor, di gereja, masjid, dan kelentang.

Mereka semua bergaul dengan ramah tanpa prasangka. Sedangkan Willard A Hanna, warga Amerika Serikat yang pada 1950-an pernah menjadi staf USIS (Kantor Penerangan AS), dalam Hikayat Jakarta menulis, ”Jakarta sesungguhnya tidak termasuk dalam daftar ibu kota besar di dunia yang paling menarik dan menggiurkan bagi wisatawan asing. Namun andai kata diadakan indeks kota-kota sedemikian rupa, sehingga terlihat sebuah kota yang pengunjungnya dapat memperoleh sekilas pengetahuan yang memuaskan dan menakjubkan tentang kondisi manusia dengan alamnya, Jakarta tentu berada di salah satu tempat teratas dan terhormat.

Baca Juga

Hal yang paling mudah dicapai apabila orang dengan santai berhadapan dengan pribadi orang Jakarta yang terkenal ramah. Hal ini dicerminkan gigi putih cemerlang anak-anak jalanan Jakarta, yang seakan-akan tidak dapat dikalahkan kemiskinan yang mereka derita.

Keramahan warga Jakarta juga mendapat pujian dari Louis Fischer, wartawan dan penulis terkemuka AS ketika berkunjung akhir 1950-an selama satu bulan. Dalam A Story of Indonesia, ia menulis, ”Saya melihat lebih banyak orang Indonesia menampakkan giginya tersenyum selama sebulan, ketimbang setahun di Eropa dan Amerika Serikat.” 

Sayangnya, apa yang dikemukakan ketiga pengarang asing dalam bukunya itu, saat ini sudah bertolak belakang. Tidak seperti tahun-tahun 1950-an dan 60-an, Jakarta yang kini berusia 499 tahun, termasuk salah satu kota di dunia yang angka kriminalitasnya cukup tinggi. Perampokan, pembunuhan, penjambretan, dan berbagai kejahatan lainnya sudah menjadi berita sehari-hari di media massa. 

Premanisme berkeliaran di mana-mana. Sekalipun pelaku kejahatan ini sudah banyak yang dipukuli, ditembak mati, dan dihakimi langsung masyarakat, tapi jumlah kejahatan tidak pernah berkurang. Malah makin bertambah. 

Bagikan: