Sabtu 13 Jun 2026 11:12 WIB

Dari AI Enabled Menuju AI First, Bersiap Memasuki Era Agentic Enterprise

Perkembangan teknologi AI menuntut setiap organisasi untuk gesit beradaptasi.

AI Leadership Exchange 2026 yang mengambil tema The Agentic Leap: Empowering Indonesia
Foto: Ist
AI Leadership Exchange 2026 yang mengambil tema The Agentic Leap: Empowering Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Diskusi mengenai pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) saat ini tidak lagi berkutat pada pilot project atau sekadar coba-coba. Saat ini, setiap organisasi dituntut dapat memanfaatkan AI untuk memenangkan persaingan.

Bahkan ke depan, AI juga akan mengubah cara perusahaan beroperasi, mengambil keputusan, bahkan model bisnisnya. Gagasan itulah yang mengemuka dalam AI Leadership Exchange 2026 yang mengambil tema The Agentic Leap: Empowering Indonesia's Digital Leadership and Winning the Enterprise AI Race.

Acara hasil kolaborasi IBM Indonesia dan CIO Insight Indonesia ini mempertemukan pemimpin teknologi perusahaan Indonesia, pelaku industri, serta regulator untuk membahas mengoptimalkan pemanfaatan teknologi AI bagi setiap organisasi di Indonesia.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, mengungkapkan pemerintah mendorong pemanfaatan teknologi AI yang berdampak. Indonesia harus membangun kemampuan nasional untuk mengembangkan teknologi AI secara mandiri.

Karena itulah, Pemerintah saat ini mendorong pengembangan ekosistem melalui kerangka 5A yang mencakup Availability, Affordability, Awareness, Ability, dan Agency. "Harapannya, ekosistem ini akan memudahkan organisasi di Indonesia mendapatkan hasil maksimal dari teknologi AI," ujarnya.

Kecepatan adopsi AI ini menjadi penting karena teknologi ini terbukti telah menciptakan competitive advantage bagi banyak organisasi. “Kesenjangan mulai terlihat antara perusahaan yang menggunakan AI sebagai alat bantu dan perusahaan yang menjadikan AI sebagai inti operasional bisnis,” ungkap General Manager IBM Asia Pacific, Hans AT Dekkers.

Hans menjelaskan, kelompok pertama lebih menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi. Sementara kelompok kedua membangun ulang proses bisnis, pengambilan keputusan, hingga model operasional dengan menjadikan AI sebagai pusat dari seluruh aktivitas perusahaan. “Dan dua pendekatan ini menghasilkan dampak yang jauh berbeda,” tambah Hans.

Dalam konteks perkembangan teknologi AI, Hans menyebut dunia sedang bergerak menuju apa yang disebut sebagai era Agentic. Jika gelombang Generative AI memperkenalkan kemampuan baru mesin kepada manusia, era Agentic ditandai oleh kehadiran agen-agen AI yang mampu menjalankan tugas, mengambil keputusan, dan berkolaborasi secara aktif dengan manusia.

Pandangan serupa diperkuat Jerry Zhu, Chief Technology Officer, Vice President of Sales Engineering, IBM APAC. Menurutnya, masa depan tidak lagi menempatkan AI sebagai pendukung bisnis. Dalam waktu dekat, AI justru akan menjadi bagian dari model bisnis itu sendiri.

“Pemenangnya adalah perusahaan-perusahaan yang mengutamakan AI (AI-First), bukan sekadar perusahaan yang diaktifkan oleh AI (AI-enabled),” ungkapnya.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi