Sabtu 13 Jun 2026 10:55 WIB

Maestro Monolog Wawan Sofwan Lakoni DAM di Eropa: Tiada Justice, Hanya Justip

Tak kenal korban, tapi membunuhnya karena mobil mewah yang dikendarainya. Dari lakon DAM karya Putu Wijaya, di Eropa, Wawan Sofwan menghadirkan satire tajam tentang iri hati, ketimpangan, dan rapuhnya keadilan.

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
Ayu Purwaningsih
Ayu Purwaningsih

"Aku tak kenal orang itu. Sampai sekarang pun aku tak tahu siapa dia. Itu salah dia, sampai aku tidak tahu siapa dia. Kenapa dia melintas dengan mobilnya ketika aku ingin membunuh? Itu kesalahan yang lain. Siapakah yang mendorong untuk membunuh? Jangan-jangan dialah yang membawa dorongan untuk membunuh itu. Oh, kalau begitu aku adalah korbannya."

Demikian penggalan adaptasi naskah lakon DAM karya Putu Wijaya yang diadaptasi pemain sekaligus sutradara teater kawakan Wawan Sofwan di Kota Köln, Jerman, 9 Juni lalu. Berpakaian ala badut, dengan mengenakan tiga topeng, Wawan beraksi di panggung yang mayoritas penontonnya adalah warga Jerman.

Lakon DAM awalnya merupakan sebuah cerita pendek (cerpen) karya Putu Wijaya yang sangat populer dan diadaptasi menjadi naskah teater monolog. Inilah penggalan kalimat lainnya yang dilontarkan Wawan saat melakoninya: "Mobilnya terlalu bagus dan mulus. Aku benci seluruh mobil beserta pengisinya, terutama mobil-mobil berkelas yang telah menghina kemiskinan negeri kami, menghina seluruh umat manusia yang terjepit untuk memilikinya. Barang-barang dari negara-negara kaya itu dan telah menggantikan dia sebagai Tuhan. Aku melihat sendiri bagaimana dia berseliweran di jalan-jalan yang kita biayai triliunan rupiah dari utang yang harus ditanggung oleh anak cucu kita. Aku jadi sebal. Asesorisnya saja, asesorisnya saja telah melebihi penghasilanku seumur hidup!"

Dalam lakon DAM; alkisah, seorang terdakwa yang mengucapkan kata-kata itu dituduh membunuh orang yang tidak dia kenal karena korbannya mengendarai mobil mewah. Sang jaksa menuntut terdakwa dihukum mati, dan hakim mengabulkannya. Dengan berganti topeng, sang dalang otomatis berganti peran menjadi terdakwa, jaksa dan hakim, dengan menggunakan topeng yang berbeda-beda. "Gratifikasi, pencucian uang, harta yang didapat dengan cara begitu harus diberantas!" teriak Wawan saat mengenakan topeng terdakwa.

Wawan Sofwan memainkan taktik multiperan karena terinspirasi dari konsep Topeng Pajegan khas Bali. Pemain tunggal berganti peran secara cepat menggunakan tiga topeng berbeda untuk mewakii terdakwa, jaksa penuntut dan hakim. "Saya belajar topeng. Ini penting untuk menjaga tradisi budaya agar tidak punah," uangkapnya. Ia menggabungan dengan seni teater Barat dengan gaya Commedia dell'arte, yakni bentuk teater fisik Barat abad ke-16 yang menggunakan topeng arkais untuk mewakili tipe karakter tertentu.

Redupnya keadilan dan moralitas

Lakon ini merupakan sebuah satire tajam sekaligus refleksi dari sistem hukum di Indonesia, yang menyentil realitas hukum yang sering kali "tumpul ke atas, tajam ke bawah" serta bagaimana keadilan menjadi begitu rapuh ketika dihadapkan pada hierarki sosial dan kepentingan sepihak. "Oleh sebab itu saya membawa meja-meja reyot ini, untuk menggambarkan betapa reyotnya sistem peradilan," ungkap Wawan. Sang penuntut diperankannya dengan gaya tergagap-gagap, sementara hakim dimainkannya dengan gaya lemah. Semua itu menjadi simbol refleksi yang terjadi di dalam kehidupan nyata.

"Mengapa istri orang lebih cantik? Mengapa rumahnya lebih hebat? Atau mobilnya lebih bagus? Itu hanya perasaan tok!" tuturnya saat berperan menjadi dalang dalam lakon ini untuk mengingatkan pentingnya menjaga ahklak dan moralitas dalam kehidupan sosial untuk tak menginginkan atau mengambil milik dan hak orang lain. Saat akal sehat diabaikan, kebaikan dibalas kelaliman dan keadilan dilemahkan: "Saya merespons situasi. Pemain teater punya panggung, jadi dapat melakukan protes atau mengkritik di atas panggung, dimainkannya di teater" ungkap Wawan kepada DW.

Melibatkan penonton

Berulang kali Wawan mengajak penonton ikut terlibat dalam pentas. Interaksi itu mengundang gelak tawa, karena ia berimprovisasi dengan kata-kata bahasa Jerman yang dipadukan dengan bahasa Indonesia. Penonton diajak bicara, menjawab bahkan ikut berperan di atas panggung. Dalam salah satu penggalan improvisasinya Wawan berujar: "Di negara ini tak ada lagi justice, yang ada jastip." Itu hanya sindiran, paparnya.

Tokoh literatur Jerman Sabine Müller yang ikut menyaksikan pertunjukan Wawan mengaku terpukau atas pentas tersebut: "Dia memerankan tiga peran—atau sebenarnya empat peran sekaligus karen ada tambahan peran sebagai dalang—dan memberikan nuansa yang sangat berbeda pada masing-masing karakter. Saya merasa hal itu sangat mengesankan. Dan di Jerman, monolog dengan berganti-ganti topeng seperti itu hampir tidak pernah terlihat. Itu sungguh luar biasa," tandasnya.

Usai pertunjukan Wawan berdiskusi dengan para penonton. Sabine menambahkan pandangannya: "Dan penjelasan-penjelasan setelah pertunjukan itu menurut saya menarik, tentang bagaimana situasi di Indonesia serta alasan mengapa ia menampilkan pertunjukan tersebut dengan cara seperti itu, sebab apa yang ia tampilkan, memang dapat dihubungkan dengan situasi saat ini, dengan situasi politiknya."

Dalam tur Eropa kali ini, Wawan seklaigus menghadiri festival teater Mülheimer Theatertage, "Jadi sekalian saja pentas keliling. Saya tiba di Berlin 7 Mei, lalu pentas di Rumah Budaya Indonesia Berlin,1 0 Mei. Setelah itu ke Hamburg, pentas di Institut Asia-Afrika Universitas Hamburg 16 Mei, atas undangan Prof. Elsa Clave. Dari Hamburg saya ke Mülheim untuk mengikuti Mulheimer Theatertage dari tanggal 18 Mei-6 Juni," uangkapnya kepada DW.

Usai pentas di Koln 9 Juni lalu, Wawan akan naik panggung di Indonesia House Amsterdam pada tanggal 12 Juni dan di Paris 15 Juni 2026. Perjalanannnya kali ini disponsori oleh Goethe Institut Bandung, Jeeves Jakarta, Reginart, Jaya Suprana Performing Arts dan beberapa sponsor perorangan.

Bawa pulang oleh-oleh

Sewaktu di Müllheim, ia menjajagi kemungkinan kerjasama membuat festival teater anak-anak di Bandung dengan Mülheimer Theatertage. "Mereka mengizinkan untuk menggunakan format festivalnya untuk diterapkan di Indonesia. Lalu saya mengobrol dengan penulis teater anak-anak, Simone Saftig. Naskah dia yg berjudul 'Herzüberkopf' keluar sebagai pemenang naskah teater anak-anak terbaik di Mülheimer Theatertage. Saya meminta izin padanya untuk menterjemahkan naskah itu ke dalam bahasa Indonesia. Dia mengizinkan dan akan membantu melobi penerbit naskahnya," ujar Wawan.

Berkat latar belakang pendidikannya di Jerman, Wawan Sofwan kerap menyutradarai naskah-naskah klasik karya sastrawan besar Jerman yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, seperti Faust I karya Johann Wolfgang von Goethe dan Der aufhaltsame Aufstieg des Arturo Ui karya Bertolt Brecht. Bahkan, lakon Monolog Topeng DAM sendiri juga sering ia pentaskan dalam tur budaya di berbagai kota di Jerman, termasuk di Berlin.

*Editor: Rizki Nugraha

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Berita Lainnya

Rekomendasi