REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Militer Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke wilayah Iran pada Rabu malam waktu setempat. Serangan ini kian mengancam kesepakatan gencatan senjata yang makin di ujung tanduk.
Komando Pusat militer AS (CENTCOM) mengatakan pasukannya telah melancarkan “serangan pertahanan diri tambahan” terhadap “beberapa sasaran di Iran”. CENTCOM mengatakan bahwa serangan tersebut dilakukan atas arahan Presiden AS Donald Trump dan merupakan “respons terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan berkelanjutan”.
Menteri Perang AS Pete Hegseth sejam sebelum serangan mengatakan Komando Pusat AS “akan sibuk malam ini”. “Karena Presiden Trump mengatakan kami akan menghantam Iran dengan keras – dan kami akan melakukannya,” katanya kepada wartawan dilansir Aljazirah.
Meskipun mengancam akan melancarkan lebih banyak serangan terhadap Iran malam ini, Hegseth mengatakan bahwa Teheran “memiliki peluang untuk membuat kesepakatan” dengan Washington.
Tanpa merinci fasilitas mana yang akan menjadi sasaran militer AS, Hegseth mengatakan kepada wartawan bahwa serangan AS akan “kuat” dan “jelas”. Ia juga mengeklaim bahwa AS mengendalikan Selat Hormuz, dia mengatakan – tanpa bukti apa pun – bahwa Washington “mampu membawa minyak masuk dan keluar” dari jalur air tersebut “dan telah melakukannya selama berminggu-minggu”.
Kantor berita Mehr Iran melaporkan bahwa pasukan AS telah menargetkan tujuh titik pantai sejauh ini. Serangan telah dilaporkan terjadi di berbagai daerah termasuk Bandar Abbas, Sirik, Qeshm dan Pulau Hengam.
Sementara sistem pertahanan udara diaktifkan di Teheran barat. Media Iran juga melaporkan ledakan di beberapa wilayah Iran di Sirik dan Minab, Bandar Abbas, Pulau Qeshm, dan Gorgan.
Ledakan juga terdengar di kota Fars di provinsi Fars barat daya Iran disebabkan oleh sistem pertahanan udara yang diaktifkan di luar kota.




