Selasa 09 Jun 2026 16:52 WIB

Dolar AS Meroket, Tarif Angkutan Pelayaran Diusulkan Naik

Tingginya harga minyak dunia membuat beban operasional kapal semakin meningkat.

Kapal feri yang mengangkut pemudik menyeberang dari Bali menuju Banyuwangi, Jawa Timur di Selat Bali,.
Foto: ANTARA/Fikri Yusuf
Kapal feri yang mengangkut pemudik menyeberang dari Bali menuju Banyuwangi, Jawa Timur di Selat Bali,.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nasib usaha angkutan penyeberangan saat ini semakin berat. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan tekanan besar terhadap biaya operasional perusahaan angkutan penyeberangan. Berdasarkan kurs transaksi Bank Indonesia (BI) per 9 Juni 2026, nilai tukar rupiah berada pada kisaran jual Rp 18.136 per dolar AS.

Bagi pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), situasi itu menyulitkan mereka. Ketua Umum Gapasdap, Khoiri Soetomo menilai, kondisi saat ini, berdampak langsung terhadap berbagai komponen biaya yang sangat bergantung pada mata uang asing.

Baca Juga

Karena pada saat yang sama, harga minyak dunia juga masih berada pada level tinggi, yaitu sekitar 94 dolar AS per barel. "Kombinasi antara pelemahan rupiah dan tingginya harga minyak dunia membuat beban operasional kapal semakin meningkat," ungkap Khoiri di Jakarta, Selasa (9/6/2026).

Dia menjelaskan, biaya operasional kapal terus mengalami kenaikan, sementara pendapatan perusahaan relatif tidak berubah karena tarif angkutan penyeberangan hingga saat ini belum disesuaikan. "Dampak pelemahan rupiah paling terasa pada biaya perawatan kapal. Hampir seluruh komponen biaya mengalami kenaikan yang cukup signifikan," terangnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement