Senin 25 May 2026 13:33 WIB

Akankah Perlawanan Iran Bawa Perdamaian ke Timur Tengah?

Serangan ke Iran melemahkan posisi AS di Timur Tengah.

Seorang pria membaca surat kabar harian Iran Vatan Emrouz melaporkan perjanjian tripartit antara China, Iran dan Arab Saudi yang ditandatangani di Beijing sehari sebelumnya, di Teheran, Iran, Sabtu (11/3/2023).
Foto: EPA-EFE/ABEDIN TAHERKENAREH
Seorang pria membaca surat kabar harian Iran Vatan Emrouz melaporkan perjanjian tripartit antara China, Iran dan Arab Saudi yang ditandatangani di Beijing sehari sebelumnya, di Teheran, Iran, Sabtu (11/3/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN – Perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran memunculkan proyeksi baru tentang tatanan keamanan kawasan Teluk dan Timur Tengah. Sejumlah pejabat dan analis menilai konflik ini bukan hanya mengubah hubungan Iran dengan negara-negara Arab Teluk, tetapi juga membuka peluang lahirnya arsitektur regional yang lebih mandiri tanpa dominasi Washington.

Amerika Serikat sejak lama terlibat erat dengan dinamika geopolitik di Timur Tengah. Pakar Timur Tengah dari the George Washington University menuliskan dalam bukunya “America’s Middle East: The Ruination of a Region, AS mula-mula masuk ke Timur Tengah untuk mengadang Uni Soviet dan ideologi komunisnya di wilayah itu pada 1950-an.

Baca Juga

Sejak itu, AS selalu campur tangan dalam urusan keamanan, politik dan ekonomi Timur Tengah. Alih-alih membawa kemakmuran, aksi berulang AS itu meluluhlantakkan wilayah tersebut melalui berbagai perang dan sanksi ekonomi.

Meski mendaku sebagai jawara demokrasi, AS tak ragu mendukung rezim otokratik demi kepentingan mereka. Saat ini, tak ada satupun negara Timur Tengah dan Teluk yang nasibnya lepas dari pengaruh AS. 

Namun serangan AS ke Iran dan perlawanan republik Iran disebut jadi titik balik pengaruh itu. Terlebih, AS ternyata tak berdaya melindungi negara-negara kliennya dari serangan balasan Iran ke pangkalan-pangkalan AS di wilayah mereka.

Mantan komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mohsen Rezaei, bahkan menyebut perang tersebut sebagai tanda “kemunduran Amerika di Timur Tengah”. Dalam wawancaranya dengan kantor berita semi-resmi Tasnim, Rezaei mengatakan bahwa untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II, kekuatan super Amerika mengalami kemunduran besar.

photo
Foto kehancuran Boeing E-3 Sentry, pesawat terpenting milik Angkatan Udara AS, akibat serangan Iran ke pangkalan Pangeran Sultan di Saudi, Jumat (27/3/2026). - (X)

“Amerika tidak akan kembali menjadi Amerika seperti masa lalu,” ujar Rezaei yang kini menjadi anggota Dewan Kebijaksanaan Iran sekaligus penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.

Ia juga memuji para negosiator Teheran yang disebut terus memperjuangkan hak-hak rakyat Iran, meski militer Iran dan IRGC masih berada dalam posisi siaga penuh.

 

Berita Lainnya

Rekomendasi