REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA –– Lonjakan tajam harga energi global dalam beberapa pekan terakhir menandai eskalasi baru dalam ketegangan geopolitik, khususnya terkait konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak mentah Brent sempat menembus level 126 dolar AS per barel, tertinggi sejak 2022, seiring meningkatnya ketidakpastian pasokan dan potensi konflik terbuka di kawasan Teluk.
Kenaikan harga tersebut dipicu oleh terhentinya pembicaraan antara Washington dan Teheran, serta laporan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan memperpanjang blokade terhadap pelabuhan Iran selama berbulan-bulan. Langkah ini dinilai sebagai upaya menekan Iran agar menyetujui kesepakatan yang lebih menguntungkan bagi Amerika Serikat.
Laporan media Barat mengutip pejabat Gedung Putih, mengatakan Trump memerintahkan rencana untuk memperpanjang blokade pelabuhan Iran "selama berbulan-bulan" dalam upaya untuk menekan Teheran agar menyetujui kesepakatan perdamaian yang lebih menguntungkan, sebagaimana diberitakan RT.
Di sisi lain, Iran merespons dengan sikap tegas. Teheran menyatakan akan terus menghalangi kapal-kapal AS dan sekutunya melintasi Selat Hormuz, jalur strategis yang menyumbang sekitar 25 persen perdagangan minyak dunia. Bahkan, Iran memperingatkan kemungkinan aksi militer yang belum pernah terjadi sebelumnya jika tekanan terhadap pelabuhannya tidak dihentikan.
Ketegangan ini langsung tercermin dalam pasar energi global. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga melonjak lebih dari 10 persen, sementara gangguan lalu lintas di Selat Hormuz memperparah kekhawatiran pasokan.
Dampaknya tidak hanya terasa di pasar minyak mentah, tetapi juga menjalar ke tingkat konsumsi. Di Amerika Serikat, harga bensin nasional mencapai 4,3 dolar AS per galon, tertinggi dalam empat tahun terakhir. Di California, harga bahkan melampaui 6 dolar AS per galon, mencerminkan tekanan langsung yang dirasakan masyarakat akibat dinamika geopolitik global.
Fenomena serupa juga terjadi di negara lain. Di Selandia Baru, harga bahan bakar melonjak tajam pada Maret 2026, dengan kenaikan bulanan bensin mencapai 18,6 persen dan solar 42,6 persen, tertinggi sejak pencatatan dimulai pada 2011.
Di tengah kondisi ini, struktur pasar energi global juga menghadapi tekanan tambahan setelah Uni Emirat Arab memutuskan keluar dari OPEC dan OPEC+. Keputusan tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk meningkatkan fleksibilitas produksi, namun berpotensi memperlemah koordinasi pasokan global.