REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dampak perang di Timur Tengah kini berbalik menghantam Amerika Serikat. Harga minyak melonjak tajam, pasokan energi global terguncang, dan Gedung Putih terpaksa menghadapi krisis yang dipicu oleh eskalasi militernya sendiri terhadap Iran.
Sejak serangan yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel ke wilayah Iran, konflik berkembang cepat di luar kendali. Teheran merespons dengan mengganggu lalu lintas energi di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia setiap hari. Akibatnya, distribusi energi global tersendat dan harga langsung meroket.
Di internal Gedung Putih, kekhawatiran meningkat. Para pejabat kini membahas skenario terburuk: harga minyak bisa menembus 150 dolar bahkan hingga 200 dolar per barel. Angka tersebut jauh di atas level normal dan berpotensi mengguncang perekonomian global, sebagaimana diberitakan Politico.
Pemerintahan Donald Trump sebelumnya sempat meremehkan konflik ini sebagai perang singkat yang tidak akan berdampak panjang. Namun kenyataan di lapangan berkata sebaliknya. Lonjakan harga energi kini menjadi “bumerang” yang langsung dirasakan oleh masyarakat Amerika.
Harga bensin di dalam negeri telah mencapai rata-rata 4 dolar per galon. Beban biaya transportasi meningkat, harga barang ikut terdorong naik, dan tekanan ekonomi semakin terasa, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah. Para pejabat bahkan mengakui kondisi ini berpotensi menjadi “pajak tak langsung” yang menyedot daya beli masyarakat.
Situasi ini juga diperparah oleh gangguan rantai pasokan global. Banyak pengiriman energi yang tertahan, sementara cadangan minyak yang sebelumnya masih mengalir ke pasar kini mulai habis. Para analis memperingatkan bahwa gelombang dampak sesungguhnya baru akan terasa dalam beberapa pekan ke depan, termasuk di Amerika Serikat.
Di tingkat global, dampaknya lebih luas. Laporan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut konflik ini berpotensi menghapus pertumbuhan ekonomi kawasan Arab hingga ratusan miliar dolar, meningkatkan pengangguran, dan mendorong jutaan orang ke dalam kemiskinan.
Meski Amerika merupakan salah satu produsen energi terbesar dunia, negara itu tidak kebal dari gejolak pasar global. Kenaikan harga solar, bahan bakar jet, hingga biaya logistik dipastikan akan menjalar ke berbagai sektor ekonomi.
Kini, pemerintah AS berupaya mencari berbagai cara untuk menekan harga energi, termasuk mempertimbangkan penggunaan kewenangan darurat. Namun langkah-langkah tersebut dinilai terlambat, mengingat akar masalah berasal dari eskalasi konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.