Senin 16 Mar 2026 12:00 WIB

Israel Akui Susah Provokasi Rakyat Iran untuk Lawan Pemerintahannya Sendiri

Trump mengeklaim rakyat Iran tak demo karena diancam pemerintah.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengikuti pawai Hari al-Quds di Teheran, Jumat (13/3/2026).
Foto: X/Abbas Araghchi
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengikuti pawai Hari al-Quds di Teheran, Jumat (13/3/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Perang melawan Iran tidak berjalan sesuai dengan kecepatan yang awalnya ditetapkan Israel pada awal agresi militer. Demikiansumber keamanan Israel dilansir TRT, Ahad.  

Menurut lembaga penyiaran publik Israel, KAN, para pejabat keamanan yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa serangan pembuka agresi militer memang lebih baik dari yang diharapkan. Tetapi perang belum bergerak maju sesuai dengan kecepatan yang dibayangkan pada awal.

Baca Juga

"Penilaian ulang terhadap tujuan perang mungkin diperlukan," tambah sumber tersebut.

Sumber tersebut juga mengindikasikan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi Israel adalah kesulitan untuk mendorong sejumlah besar warga Iran turun ke jalan untuk memprotes pemerintah, sesuatu yang menurut beberapa penilaian Israel dapat terjadi selama perang.

Mereka mengeklaim bahwa AS dan Israel sedang merencanakan langkah-langkah tambahan di Iran yang dapat memengaruhi arah perang di masa mendatang.

Dalam pernyataan sebelumnya, militer Israel mengatakan bahwa salah satu tujuan utama angkatan udara selama hari-hari awal perang adalah untuk mencapai "keunggulan udara" di atas langit Iran.

Menurut militer, serangan telah menargetkan sekitar 2.200 lokasi yang terkait dengan lembaga keamanan dan militer Iran, termasuk fasilitas milik Korps Garda Revolusi Islam serta lembaga pemerintah dan keamanan.

AS dan Israel telah melanjutkan serangan bersama terhadap Iran sejak 28 Februari, menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk gugurnya pemimpin tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Iran telah merespons dengan serangan pesawat tak berawak dan rudal yang menargetkan Israel dan aset militer AS di Teluk. Serangan Iran mengakibatkan korban jiwa dan kerusakan pada beberapa infrastruktur sipil serta memengaruhi pasar global dan penerbangan.

Presiden AS Donald Trump menjelaskan mengapa menurutnya belum terjadi pemberontakan di Iran dalam komentarnya kepada wartawan di atas pesawat Air Force One.

“Anda berurusan dengan para 'preman',” katanya, merujuk pada kepemimpinan Iran.

“Dan mereka telah memberi tahu semua orang dan mengeluarkan pernyataan bahwa jika Anda berdemonstrasi, Anda akan ditembak dan dibunuh… Jadi, saya sepenuhnya mengerti mengapa mereka [para demonstran] tidak melakukannya,” tambahnya.

Trump telah menyerukan agar warga Iran turun ke jalan dan menggulingkan pemerintah mereka setelah ia melancarkan perang terhadap negara tersebut.

Ketika ditanya oleh seorang wartawan apakah ia siap untuk menyatakan kemenangan, Trump berkatam “Tidak, saya tidak ingin melakukan itu. Tidak ada alasan untuk itu. Saya pikir saya hanya akan mengatakan mereka telah hancur.”

Pernyataan Trump bertolak belakang dengan mayoritas warga Iran yang mendukung pemerintahan dan menolak agresi AS-Israel terhadap negara tersebut. 

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement