Kamis 26 Mar 2026 07:30 WIB

Proposal Gencatan Senjata AS Ditolak Mentah-Mentah oleh Iran

Proposal gencatan senjata dari AS berisi 15 poin yang diteruskan oleh Pakistan.

Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington.
Foto: EPA/Will Oliver
Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Iran pada Rabu (25/3/2026) menolak rencana Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan sementara perang sembari terus melancarkan serangan ke Israel dan negara-negara Teluk. Salah satu serangan menargetkan sebuah depot minyak di Bandara Internasional Kuwait memicu kebakaran. 

Keteguhan Iran untuk menolak proposal gencatan senjata AS juga bersamaan dengan serangan udara Israel terhadap Teheran, sementara AS mengirim pasukan dari Angkatan Udara dan marinir ke kawasan Timur Tengah. Dalam wawancara dengan televisi Iran dilansir Associated Press, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa pemerintahannya tidak terlibat dalam pembicaraan mengakhiri perang, "dan kami tidak merencanakan negosiasi apapun."

Baca Juga

Pernyataan Araghchi tak lama setelah salah satu pembaca berita di salah satu stasiun TV Iran mengutip seorang sumber pejabat yang mengatakan bahwa Iran menolak proposal gencatan senjata dari AS. Iran menurut presenter TV itu, memiliki tuntutan tersendiri untuk mengakhiri perang.

Sebelumnya, dua pejabat dari Pakistan yang meneruskan proposal AS ke Iran, menggambarkan 15 poin yang di antaranya adalah pencabutan sanksi, penghapusan progran nuklir, pembatasan program rudal, dan pembukaan kembali Selat Hormuz. Sementara, seorang pejabat dari Mesir yang terlibat dalam upaya mediasi mengatakan, proposal AS juga meminta Iran membatasi dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan.

photo
Tim darurat Israel bekerja di lokasi serangan rudal Iran di daerah perumahan di Tel Aviv, Israel, 24 Maret 2026. - (EPA/ABIR SULTAN)

Berbicara terpisah, Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan bahwa AS dan Iran dalam proses negosiasi meski Teheran membantah. "Negosiasi berlanjut. Produktif, sebagaimana yang dikatakan Presiden pada Senin, dan pembicaraan akan terus berlanjut," kata Leavitt.

Leavitt juga mengingatkan bahwa jika proses negosiasi tidak menghasilkan kesepakatan, Presiden Donald Trump, "akan memastikan bahwa mereka akan dihantam lebih keras dari apa yang pernah terjadi sebelumnya."

Beberapa poin dari proposal yang diajukan AS bisa dipastikan akan ditolak Iran merujuk pada negosiasi yang pernah terjadi sebelum perang pecah. Iran diketahui menolak tegas mendiskusikan program rudal balistik dan dukungan mereka terhadap kelompok militan di kawasan, yang dipandang Teheran sebagai kunci dari keamanan nasional negara.

Terkait Selat Hormuz, Iran kini memandang kemampuan mengontrol perlintasan itu sebagai keuntungan strategis terbesar negara. Serangan Iran ke infrastruktur energi di kawasan bersamaan dengan pembatasan perlintasan Selat Hormuz telah memicu lonjakan harga minyak telah menekan AS untuk mencari jalan keluar untuk membuat pasar dunia tenang.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement