Ahad 01 Mar 2026 14:09 WIB

Iran Secepatnya Putuskan Pemimpin Tertinggi Baru Usai Khamenei Gugur, Majelis Ahli Berkumpul

Majelis Ahli akan bersidang hari ini dan prosesnya akan dimulai.

Para pelayat bereaksi menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Lapangan Enqelab, Teheran, Iran, 1 Maret 2026.  Menurut pernyataan dari media pemerintah Iran yang dirilis pada 1 Maret 2026, Khamenei tewas dalam serangan udara dalam kampanye militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026.
Foto: EPA/ABEDIN TAHERKENAREH
Para pelayat bereaksi menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Lapangan Enqelab, Teheran, Iran, 1 Maret 2026. Menurut pernyataan dari media pemerintah Iran yang dirilis pada 1 Maret 2026, Khamenei tewas dalam serangan udara dalam kampanye militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026.

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN - Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani memastikan bahwa Majelis Ahli akan berkumpul pada Ahad (1/3/2026). Pertemuan ini untuk memulai proses pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran untuk menggantikan Ali Khamenei yang gugur.

"Menurut pasal 111 Konstitusi Iran, dalam hal kematian pemimpin tertinggi, Majelis Ahli harus memilih pemimpin tertinggi yang baru secepatnya," kata Larijani, sebagaimana disiarkan televisi nasional Iran.

Baca Juga

"Majelis Ahli akan bersidang hari ini dan prosesnya akan dimulai," ucap dia, menambahkan.

Pada Sabtu pagi (28/2/2026) waktu setempat, Amerika Serikat dan Zionis Israel melancarkan serangkaian serangan ke Iran, termasuk ibu kota Teheran, sehingga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan jatuhnya korban jiwa rakyat sipil. Iran kemudian melancarkan serangan rudal balasan ke wilayah Israel serta fasilitas militer AS di Timur Tengah.

Pada Ahad, televisi nasional Iran mengonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei syahid akibat serangan rudal AS-Israel tersebut.

Terkait serangan balasan, Larijani memastikan bahwa Iran tidak berniat menyerang negara-negara tetangga di kawasan Timur Tengah, tetapi Teheran bermaksud hanya menyerang pangkalan militer AS, yang bukan merupakan wilayah negara mereka.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

Republik Islam Iran tak main-main dengan janjinya menyerang semua pangkalan militer AS di kawasan jika mereka diserang lebih dulu. media Iran melaporkan, sejauh ini sudah 14 pangkalan militer AS di seantero Asia Barat dihajar rudal-rudal Iran.

Kantor Berita Tasnim melaporkan, sumber di militer Iran menyatakan belasan pangkalan militer itu sudah disasar Iran. Behnam Saeedi, Sekretaris Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri di Dewan Syura Iran, juga mengkonfirmasi hari ini bahwa Angkatan Bersenjata Iran telah menargetkan tujuh pangkalan militer AS di tujuh negara.

Saeedi menambahkan bahwa tanggapan Republik Islam terhadap agresi tersebut bersifat langsung dan apa yang telah dilakukan sejauh ini barulah semacam latihan, bukan tanggapan yang tegas. Iran sebelumnya telah bersumpah bahwa pangkalan militer Washington di wilayah tersebut akan diserang jika Republik Islam menjadi sasarannya.

AS memiliki delapan pangkalan militer permanen di Asia Barat, yang terletak di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Selain itu, mereka memiliki akses ke sekitar belasan fasilitas militer lainnya di kawasan ini, termasuk lokasi di Mesir, Irak, Yordania, Oman, Arab Saudi, dan Suriah.

 

photo
Asap membubung di langit setelah ledakan terdengar di Manama, Bahrain, 28 Februari 2026. Ledakan itu diduga akibat serangan balasan Iran atas serangan AS-Israel. - ( REUTERS/Stringer)

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement