Ahad 01 Mar 2026 10:47 WIB

Sekjen PBB: Serangan Militer Langgar Piagam PBB

Sekjen PBB sebut serangan militer ini jadi kegagalan upaya perdamaian

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres dalam siadang darurat keamanan PBB
Foto: Tangkapan Layar
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres dalam siadang darurat keamanan PBB

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyampaikan peringatan keras dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB menyusul serangan udara besar-besaran Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Dengan nada bicara yang berat, Guterres menyebut situasi saat ini telah membawa kawasan Timur Tengah ke ambang kehancuran yang tak terkendali.

"Saya berdiri di sini hari ini dengan perasaan duka yang mendalam. Pagi ini, dunia terbangun dengan berita serangan militer masif yang diluncurkan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap sasaran di seluruh Republik Islam Iran," ujar Guterres membuka narasinya di markas besar PBB, New York.

Guterres tidak hanya menyoroti satu pihak. Ia secara tegas mengutuk tindakan militer yang dilakukan kedua belah pihak sebagai pelanggaran nyata terhadap Piagam PBB. Menurutnya, penggunaan kekerasan bersenjata untuk menyelesaikan perselisihan politik adalah kemunduran bagi peradaban hukum internasional.

"Saya mengutuk serangan militer masif ini. Di saat yang sama, saya juga mengutuk serangan balasan dari Iran yang telah melanggar kedaulatan dan integritas wilayah banyak negara tetangganya, termasuk Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab," tegasnya.

Ia mengingatkan seluruh anggota dewan bahwa Pasal 2 ayat 4 Piagam PBB mewajibkan semua negara untuk menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas teritorial negara mana pun. "Prinsip ini bukan sekadar saran, melainkan dasar dari perdamaian dunia," lanjut Guterres.

Guterres memaparkan data mengerikan mengenai dampak langsung dari serangan tersebut. Ia membawa narasi kemanusiaan ke tengah ruang sidang untuk mengingatkan para diplomat bahwa keputusan perang memiliki konsekuensi nyata bagi warga sipil.

"Laporan yang masuk sangat mengkhawatirkan. Sekitar 20 kota di Iran, termasuk Teheran, Isfahan, Shiraz, dan Tabriz telah diserang. Namun yang paling menyayat hati adalah jatuhnya korban sipil yang signifikan," tutur Guterres dengan nada rendah.

Secara spesifik, ia menyinggung serangan yang menghantam fasilitas pendidikan. "Ada laporan mengenai serangan udara yang menewaskan sedikitnya 85 orang di sebuah sekolah anak perempuan di Provinsi Hormozgan. Anak-anak yang seharusnya belajar, justru menjadi korban dari konfrontasi yang mereka tidak pahami," tambahnya.

Ia mengungkapkan bahwa serangan ini terjadi justru di saat upaya damai hampir membuahkan hasil. Ia menyebut tindakan militer ini sebagai penghancuran atas "kesempatan emas" diplomasi.

"Sangat memilukan bahwa eskalasi ini terjadi tepat setelah adanya kemajuan dalam pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran melalui mediasi di Oman. Sebuah jendela kesempatan untuk de-eskalasi kini telah tertutup paksa," sesalnya.

Di akhir pidatonya, ia memberikan satu kalimat pamungkas yang menjadi peringatan bagi seluruh dunia: "Kita harus menarik diri dari ambang jurang ini sebelum terlambat. Dunia tidak mampu, dan tidak akan sanggup, menanggung perang besar lainnya di wilayah paling tidak stabil di bumi ini" tegas Guterres.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement