Rabu 04 Feb 2026 20:16 WIB

Begini Kesimpulan Sementara Penyelidikan Polisi di Kasus Bocah SD NTT Bunuh Diri

Pihak kepolisian tak mendapati adanya tanda-tanda kekerasan dialami YBR.

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Andri Saubani
Surat yang ditinggalkan YBR di lokasi kejadian di Desa Batajawa, Kabupaten Ngada, NTT.
Foto: Tangkapan layar media sosial
Surat yang ditinggalkan YBR di lokasi kejadian di Desa Batajawa, Kabupaten Ngada, NTT.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tak ada tanda-tanda kekerasan yang ditemukan kepolisian pada jasad YBR, bocah 10 tahun di Desa Betajawa, Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang hilang nyawa lantaran bunuh diri. Kapolres Ngada AKBP Andrey Valentino menyampaikan, kesimpulan sementara dari hasil penyelidikan kepolisian, bocah kelas IV Sekolah Dasar (SD) itu meninggal dunia lantaran pilihannya sendiri untuk mengakhiri hidup.

Faktor ekonomi dan keluarga dikatakan juga menjadi salah satu penyebab YBR meninggal dunia dengan cara gantung diri. “Ini murni karena niatan dari si anak tersebut, ataupun memang ada unsur-unsur lainnya. Cuma terakhir kita dapat menyimpulkan bahwa memang murni dari niatan si korban itu sendiri untuk mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu,” ujar Andrey saat dihubungi wartawan dari Jakarta, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga

Menurut Andrey, kepolisian juga tak mendapati adanya tindak kekerasan yang dialami YBR. Baik kekerasan dari keluarga, maupun perundungan di sekolah.

“Tidak ada kekerasan yang ditemukan. Hasil visum juga kita tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan,” ujar Andrey.

Namun dari penelusuran kepolisian memang ada ditemukan fakta-fakta sosial, dan keluarga yang diduga memicu pilihan YBR mengakhiri hidupnya. YBR, kata Andrey selama ini memang tak selalu tinggal bersama-sama kedua orang tuanya. Melainkan tinggal di rumah neneknya. YBR sendiri, sejak dalam kandungan ibunya, sudah ditinggal ayahnya. Dan ayah YBR, merupakan suami ketiga dari sang ibu.

“Jadi kalau kita dalami lebih jauh lagi, persoalan anak ini memang agar berat. Maksudnya, dia ini kan anak dari suami ketiga. Selama dalam kandungan, pun orang tuanya dalam hal ini ayahnya tidak pernah ada,” ujar Andrey.

Namun ibu YBR, tetap menghendaki agar anaknya itu dapat bersekolah. Masalahnya, kata Andrey sebelum ditemukan tak bernyawa, YBR pernah dimarahi oleh ibunya. Gara-garanya, karena YBR sudah satu pekan tak masuk sekolah.

“Si anak ini dalam satu minggu itu beberapa kali tidak masuk sekolah. Alasannya sakit,” ujar Andrey.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

Kehidupan adalah anugerah berharga dari Allah SWT. Segera ajak bicara kerabat, teman-teman, ustaz/ustazah, pendeta, atau pemuka agama lainnya untuk menenangkan diri jika Anda memiliki gagasan bunuh diri. Konsultasi kesehatan jiwa bisa diakses di hotline 119 extension 8 yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes juga bisa dihubungi pada 021-500-454. BPJS Kesehatan juga membiayai penuh konsultasi dan perawatan kejiwaan di faskes penyedia layanan
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement