Selasa 27 Jan 2026 22:34 WIB

Kapal Feri Tenggelam di Filipina, Ratusan Orang Selamat

Sebuah kapal feri tenggelam saat berlayar menuju Jolo, Provinsi Sulu, Filipina selatan. Hingga saat ini diketahui 15 orang tewas, sementara 28 penumpang lainnya masih dinyatakan hilang.

Rep: deutsche welle/ Red: deutsche welle
Philippine Coast Guard/Xinhua/picture alliance
Philippine Coast Guard/Xinhua/picture alliance

Sebuah kapal feri yang membawa lebih dari 350 orang tenggelam di Filipina selatan pada Senin (26/01) pagi. Kecelakaan ini menyebabkan 15 orang tewas dan 28 orang masih hilang, menurut penjaga pantai.

Kecelakaan terjadi pada pukul 01.50 waktu setempat (00.50 WIB) ketika kapal penumpang MV Trisha Kerstin 3 berangkat dari kota pelabuhan Zamboanga menuju Jolo di Provinsi Sulu.

Kapal feri tersebut tenggelam meski cuaca dilaporkan dalam kondisi baik, sekitar satu mil laut (hampir dua kilometer) dari desa pulau Baluk-baluk di Provinsi Basilan, kata Romel Dua, seorang komandan penjaga pantai, kepada kantor berita Associated Press.

Menurut Penjaga Pantai Filipina (PCG), feri itu membawa penumpang sesuai batas yang diizinkan, yakni 352 orang. Saat kejadian, terdapat 332 penumpang dan 27 awak kapal di dalam feri tersebut.

“Ada seorang petugas keselamatan penjaga pantai di atas kapal, dan dialah yang pertama menghubungi kami untuk meminta pengerahan kapal penyelamat,” ujar Dua, seraya menambahkan bahwa petugas keselamatan tersebut berhasil selamat.

Operasi penyelamatan dan investigasi masih berlangsung

Sejauh ini, 316 orang berhasil diselamatkan, sementara tim penyelamat masih mencari 28 orang yang dinyatakan hilang, kata Romel Dua, seorang komandan penjaga pantai, kepada kantor berita AFP. Ia juga menyampaikan bahwa 15 orang telah dipastikan meninggal dunia.

“Pesawat penjaga pantai juga sedang dalam perjalanan untuk membantu operasi penyelamatan. Angkatan Laut dan Angkatan Udara turut mengerahkan sumber daya mereka,” kata Dua, yang berbasis di Mindanao selatan.

Petugas tanggap darurat Basilan, Ronalyn Perez, mengatakan bahwa para penyelamat menghadapi kesulitan dalam menangani para korban selamat.

“Tantangannya adalah jumlah pasien yang datang. Saat ini kami kekurangan tenaga,” ujar Perez. Ia menambahkan bahwa sedikitnya 18 orang telah dibawa ke sebuah rumah sakit setempat.

Sementara itu, Romel Dua menyatakan bahwa investigasi sedang dilakukan untuk mengetahui penyebab kecelakaan tersebut.

“Untuk saat ini kami belum dapat memastikan penyebab tenggelamnya kapal. Namun, kami telah diinstruksikan untuk melakukan investigasi kecelakaan maritim guna menentukan penyebabnya,” kata Dua.

“Saat ini, fokus utama kami adalah operasi penyelamatan,” ujarnya.

Selain itu, Mujiv Hataman, Gubernur Provinsi Pulau Basilan, mengatakan kepada radio DZBB bahwa sebagian besar korban selamat dalam kondisi baik, tetapi beberapa penumpang lanjut usia membutuhkan perawatan medis darurat. Ia menambahkan bahwa pihak berwenang masih melakukan pemeriksaan silang terhadap daftar penumpang sementara upaya penyelamatan berlangsung.

Filipina punya catatan kurang baik soal keselamatan maritim. Puluhan orang tewas setiap tahun akibat kecelakaan feri di negara dengan lebih dari 7.000 pulau tersebut. Selain badai yang kerap muncul, kecelakaan laut sering terjadi karena kapal yang kurang terawat, penumpang yang melebihi kapasitas, hingga penegakan aturan keselamatan yang tidak merata, terutama di provinsi-provinsi terpencil.

Pada Desember 1987, feri Dona Paz tenggelam setelah bertabrakan dengan kapal tanker bahan bakar di Filipina tengah, menewaskan lebih dari 4.300 orang. Ini tercatat menjadi bencana maritim terburuk di dunia di masa damai.

Editor: Hani Anggraini

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan deutsche welle. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab deutsche welle.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement