Sabtu 20 Dec 2025 06:36 WIB

Dies Natalis ke-76, UGM Perkuat Peran Kampus Berdampak

UGM mengusung tema Kampus Sehat, Pilar Kemandirian dan Ketahanan Bangsa.

Rep: Wulan Intandari/ Red: Fernan Rahadi
Rektor UGM, Ova Emilia, saat memberikan sambutan pada acara Universitas Gadjah Mada (UGM) memperingati Dies Natalis ke-76 UGM di Grha Sabha Pramana, UGM, Sleman, Yogyakarta, Jumat (19/12/2025).
Foto: Wulan Intandari
Rektor UGM, Ova Emilia, saat memberikan sambutan pada acara Universitas Gadjah Mada (UGM) memperingati Dies Natalis ke-76 UGM di Grha Sabha Pramana, UGM, Sleman, Yogyakarta, Jumat (19/12/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Universitas Gadjah Mada (UGM) memperingati Dies Natalis ke-76 tahun dengan meneguhkan perannya sebagai kampus berdampak yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga hadir menjawab persoalan kemanusiaan, pembangunan berkelanjutan, serta tantangan global yang kian kompleks. Momentum ini menjadi refleksi perjalanan panjang UGM sekaligus penegasan arah strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul guna menyongsong bonus demografi dan Indonesia Emas 2045.

Dalam sambutannya, Rektor UGM, dr Ova Emilia, menyampaikan UGM terus mengambil peran aktif dalam merespons berbagai krisis sosial dan kemanusiaan. Salah satu wujud nyata adalah pembentukan Emergency Response Unit sebagai respons atas bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.

"UGM turut menjadi bagian dari gerakan solidaritas untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak musibah dengan membentuk Emergency Response Unit yang terdiri atas tujuh working group, melibatkan kekuatan lintas fakultas dan sekolah serta keahlian lintas disiplin," ujar Rektor mengawali sambutannya, Jumat (19/12/2025).

Melalui kerja terpadu tersebut, Ova menyebut kampusnya tidak hanya mengirimkan bantuan ke lokasi bencana, tetapi juga melakukan pemetaan mahasiswa terdampak, penyaluran bantuan, pengembangan geoportal basis data, penyusunan SOP dan strategi mitigasi, hingga pendampingan psikososial dan pengelolaan komunikasi publik. Upaya ini diperkuat melalui kolaborasi dengan alumni, filantropis, BRIN, dan pemerintah pusat, serta diintegrasikan dengan langkah pemerintah dalam masa tanggap darurat dan penyusunan roadmap rehabilitasi rekonstruksi.

"Ini merupakan wujud tanggung jawab UGM terhadap kemanusiaan, solidaritas kebangsaan, serta komitmen mendorong model pembangunan berkelanjutan yang adaptif terhadap perubahan iklim," katanya.

Kampus Berdampak

Dalam Dies Natalis ke-76 ini, UGM mengusung tema Kampus Sehat, Pilar Kemandirian dan Ketahanan Bangsa sebagai penegasan bahwa budaya kesehatan harus terintegrasi dalam tata kelola kampus. Kampus yang sehat dipandang sebagai fondasi strategis untuk melahirkan SDM unggul masa depan.

"Membangun kemandirian universitas berarti turut membangun pilar kedaulatan bangsa," kata Rektor.

Ova menyinggung bagaimana dampak dunia yang tengah berada dalam situasi paradoks global. Aspirasi penguatan multilateralisme berhadapan dengan menguatnya kepentingan domestik berbagai negara, yang memicu ketidakpastian ekonomi, politik, lingkungan, dan sosial. Kondisi ini, menurutnya, turut berdampak langsung pada pengelolaan pendidikan tinggi nasional.

Sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH), Ova menyebut UGM memiliki otonomi dalam tata kelola dan pengembangan tridarma, namun tetap menghadapi tantangan birokratisasi serta mandat sosial untuk menyediakan pendidikan berkualitas dan terjangkau di tengah penurunan alokasi anggaran negara. Situasi ini menuntut strategi cermat agar otonomi dan keberpihakan sosial tetap berjalan seimbang.

Karenanya, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebelumnya mendorong agar setiap kampus harus berdampak, relevan, dan berkontribusi berkelanjutan bagi masyarakat. 

"UGM dalam menjaga muruah institusi pendidikan tinggi yang berkomitmen menyediakan ruang pendidikan, serta ekosistem akademik bermutu dan berdampak," ucapnya.

Sepanjang tahun 2025, Ova memaparkan apa saja kontribusi nyata yang telah diberikan UGM, mulai dari penguatan kemandirian bahan baku obat dan alat kesehatan, penanganan stunting dan TBC, penguatan kedaulatan pangan dan transisi energi berkeadilan, adaptasi lingkungan, pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan, hingga pengentasan kemiskinan melalui pemberdayaan masyarakat.

"Dalam seluruh proses tersebut, UGM senantiasa berpegang pada tiga prinsip utama yakni merakyat, mandiri, dan berkelanjutan," ungkap Rektor.

Di sisi lain, Ova juga menjelaskan UGM menjadi pusat inovasi dan hilirisasi riset, meski tantangan perizinan dan distribusi produk riset masih memerlukan keberpihakan negara dalam membangun ekosistem inovasi nasional. Selama puluhan tahun perjalanannya, UGM telah melahirkan pemimpin bangsa, penggerak pembangunan, serta berbagai inovasi yang diserap industri. Di bidang pangan, lahir berbagai produk Gamafood, di bidang teknik, inovasi teknologi yang terhubung dengan kebutuhan industri serta di bidang sosial-humaniora, penguatan kebijakan dan fondasi sosial masyarakat.

Sedangkan di sektor kesehatan dan farmasi, UGM berhasil menghilirisasi berbagai produk inovatif, seperti Rapid Assessment Diabetic Retinopathy (RADR), RZ-VAC, Dental SilkBon, Divabirth, Aphrofit, dan Konilife Memora. Melalui Dies Natalis ke-78 ini, Ova menyampaikan harapannya agar UGM terus menjadi kampus berdampak merakyat, mandiri, dan berkelanjutan, dalam menyiapkan generasi unggul yang sehat, produktif, dan berdaya saing guna menyongsong bonus demografi dan Indonesia Emas 2045.

"Membangun kemandirian universitas berarti turut membangun pilar kedaulatan bangsa," ucapnya.

Bonus Demografi dan Tantangan Generasi Muda

Pandangan ini diperkuat oleh paparan Prof Adi Utarini, yang menyoroti pentingnya membentuk generasi muda sehat menuju Indonesia Emas.

"Kenapa memilih generasi muda, saya kira bicaranya adalah masyarakat masa depan, bukan masa sekarang," ujarnya.

Utari mengungkapkan bahwa indeks modal manusia Indonesia saat ini masih berada pada angka 0,54. Angka ini masih jauh dari yang diharapkan. Menurutnya, tantangan di sektor pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, dan lingkungan saling terkait. Jika tidak ditangani secara terintegrasi, bonus demografi justru berpotensi menjadi beban pembangunan.

"Jadi artinya cuma 54 persen. Kalau tidak ada perubahan apa-apa, kita tidak melakukan apa-apa maka hanya mencapai 54 persen dari productivity. Kita hanya punya window (jendela untuk memperbaiki -Red) sampai 2041. Dan itu tidak lama, 16 tahun dari sekarang," ungkapnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya