Kamis 12 Mar 2026 04:46 WIB

Negara Teluk Loloskan Resolusi DK PBB Kecam Iran, Diam Soal Agresi AS-Israel

Iran menilai resolusi tak adil karena tak menyebut penyebab konflik.

Para Duta Besar Dewan Keamanan berkumpul di Markas Besar PBB di New York, New York, AS, 10 Juni 2024.
Foto: EPA-EFE/SARAH YENESEL
Para Duta Besar Dewan Keamanan berkumpul di Markas Besar PBB di New York, New York, AS, 10 Juni 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK – Dewan Keamanan PBB resmi mengadopsi resolusi yang diusulkan Bahrain dan negara-negara Teluk mengutuk serangan Iran terhadap negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC), serta Yordania. Resolusi tersebut disahkan dengan 13 suara mendukung. Rusia dan China abstain.

Bahrain mengajukan resolusi atas nama negara-negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)—yang terdiri dari Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA)—serta Yordania. Disponsori bersama oleh 135 negara, resolusi tersebut menekankan “dukungan kuat terhadap integritas wilayah, kedaulatan dan kemandirian politik” negara-negara GCC dan Yordania.

Mereka mengutuk keras “serangan mengerikan yang dilakukan Republik Islam Iran terhadap” negara-negara Teluk dan Yordania, dan menekankan bahwa serangan tersebut “merupakan pelanggaran hukum internasional dan ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional.”

Resolusi tersebut juga mengutuk penargetan infrastruktur sipil, yang “mengakibatkan korban sipil dan kerusakan bangunan sipil.”

Utusan Bahrain untuk PBB Jamal Fares Alrowaiei menyambut baik adopsi tersebut. “Ini membuktikan bahwa Dewan berkomitmen untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional.”

 

photo
Asap membubung di langit setelah ledakan terdengar di Manama, Bahrain, 28 Februari 2026. Ledakan itu diduga akibat serangan balasan Iran atas serangan AS-Israel. - ( REUTERS/Stringer)

“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh negara anggota PBB yang ikut mensponsori resolusi ini. Jumlah mereka berjumlah 135 negara. Dukungan luar biasa dari komunitas internasional ini mencerminkan kesadaran kolektif akan bahaya serangan tidak adil Iran terhadap negara kita,” ujarnya.

Perwakilan Iran keberatan dengan resolusi tersebut. “Keputusan tersebut jelas merupakan ketidakadilan terhadap negara saya, yang merupakan korban utama dari tindakan agresi yang jelas dan tidak ambigu”, kata Duta Besar Amir Saeid Iravani.

“Keputusan tersebut memutarbalikkan fakta di lapangan dan mengabaikan akar penyebab krisis saat ini,” lanjutnya.

 

photo
Warga menyiapkan pemakaman massal untuk korban serangan sekolah perempuan di Minab, Iran, Selasa (3/3/2026). Sebanyak 165 siswi dan guru meninggal akibat serangan udara AS terhadap sekolah tersebut pada 28 Februari 2026. - (IRANIAN FOREIGN PRESS DEPARTMENT)

“Serangan terhadap kami dimulai dengan pembunuhan Pemimpin Tertinggi dan pejabat, yang menyebabkan kematian ribuan korban.”

Iravani mengatakan lebih dari 1.348 warga sipil tewas dan lebih dari 17.000 orang terluka sejak AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari. Lebih dari 19.000 lokasi sipil, termasuk rumah dan rumah sakit, juga rusak, menurut perwakilan Iran.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement