Ahad 30 Nov 2025 11:32 WIB

Dompet Dhuafa Fokuskan Respons Darurat di Sumatra

Angka tersebut masih dapat berkembang.

Rep: Fuji E Permana/ Red: Muhammad Hafil
Warga melihat jalan yang putus di wilayah Mega Mendung, Lembah Anai, Tanah Datar, Sumatera Barat, Sabtu (29/11/2025). Akses utama jalan nasional Padang-Bukittinggi itu putus total akibat banjir bandang dan longsor pada Kamis (27/11) sehingga pengguna jalan harus memutar jauh melalui Kabupaten Solok.
Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Warga melihat jalan yang putus di wilayah Mega Mendung, Lembah Anai, Tanah Datar, Sumatera Barat, Sabtu (29/11/2025). Akses utama jalan nasional Padang-Bukittinggi itu putus total akibat banjir bandang dan longsor pada Kamis (27/11) sehingga pengguna jalan harus memutar jauh melalui Kabupaten Solok.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Dompet Dhuafa melalui tim Respon Kemanusiaan, Disaster Management Center (DMC) dan cabang di Sumatra Utara, Aceh, Sumatra Barat bergerak cepat untuk melakukan respon darurat, sejak hujan mengguyur tiga wilayah tersebut sejak Senin, 24 November 2025. Respon seperti evakuasi, bantuan perlengkapan pengungsi, telah dilakukan tim.

"Kami telah mengaktifkan tim relawan DMC Dompet Dhuafa untuk bergerak cepat merespons kondisi tersebut sejak awal terjadinya bencana. Setelah respon cepat di sejumlah titik banjir dan tanah longsor, dan erupsi Semeru di Pulau Jawa beberapa hari lalu, kini kami juga memfokuskan respons di Pulau Sumatra," kata Kepala DMC Dompet Dhuafa, Shofa Qudus kepada Republika, Ahad (30/11/2025)

Baca Juga

Shofa mengatakan, di sejumlah titik pengungsian di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat, warga bertahan dengan kondisi yang serba terbatas. Banyak dari mereka hanya membawa pakaian yang melekat di tubuh saat menyelamatkan diri. Anak-anak, ibu, dan lansia harus tinggal sementara di tempat pengungsian dengan fasilitas yang minim.

Shofa menambahkan bahwa tim kami sudah berada di masing-masing lokasi, membantu proses evakuasi dan berkoordinasi dengan BPBD setempat. DMC Dompet Dhuafa masih fokus pada penanganan respons dan pencarian korban yang hilang.

"Kami juga mulai membangun dapur-dapur umum di beberapa titik. Sementara itu untuk memudahkan koordinasi dan pengiriman bantuan, kami mengaktivasi posko di Medan sebagai wilayah aman terdekat ke Aceh dan Padang. Kami menyiagakan perlengkapan seperti kendaraan rantis, perahu karet, helmet, tabung oksigen dan lain-lain," ujar Shofa.

Berdasarkan data yang dihimpun saat ini tercatat total 174 orang meninggal dunia dan 12.546 kepala keluarga (KK) mengungsi. Namun,  angka tersebut masih dapat berkembang, karena masih terdapat banyak wilayah yang belum bisa diakses dan proses pendataan terus berlangsung.

Curah hujan tinggi di sejumlah wilayah kembali mencatatkan rentetan bencana. Banjir bandang dan tanah longsor menerjang sejumlah wilayah di Indonesia. Setelah beberapa pekan lalu melanda kawasan di Pulau Jawa, kali ini bencana banjir dan tanah longsor terjadi di Pulau Sumatera secara masif.

"Tingginya intensitas hujan sepekan terakhir menyebabkan debit air sungai meluap, dan memicu pergerakan tanah di tiga provinsi sekaligus, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat," kata Shofa.

Berdasarkan data yang dihimpun tim respons kebencanaan DMC Dompet Dhuafa di lapangan, cakupan wilayah terdampak sangat luas. Di Aceh, banjir merendam lebih dari 16 daerah, termasuk Pidie, Aceh Besar, Aceh Tamiang, hingga Aceh Selatan. Kondisi serupa terjadi di Sumatra Utara di mana 11 daerah seperti Mandailing Natal, Nias Selatan, hingga Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan lumpuh total. Sementara di Sumatra Barat, 15 daerah termasuk Padang Pariaman, Tanah Datar, Agam, hingga Pesisir Selatan mengalami kerusakan parah akibat galodo dan longsor. Kondisi tersebut mengakibatkan sejumlah rumah hanyut terbawa arus, jalan dan jembatan terputus, ribuan warga terpaksa mengungsi, serta adanya korban jiwa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement