Sabtu 30 Aug 2025 12:19 WIB

Rezeki Qubil dalam Seonggok Bus Hangus di Markas Gegana

Kematian Affan menjadi pemantik amarah rakyat akibat kesewenang-wenangan aparat.

Qubil (35 tahun) sibuk mengais barang-barang di seonggok bus yang hangus terbakar, di Markas Gegana, Jakarta, Sabtu (30/8/2025)..
Foto: Stevy Maradona/Republika
Qubil (35 tahun) sibuk mengais barang-barang di seonggok bus yang hangus terbakar, di Markas Gegana, Jakarta, Sabtu (30/8/2025)..

Laporan Jurnalis Republika, Stevy Maradona

Matahari di timur masih jingga ketika Qubil sibuk mengais barang-barang di seonggok bus yang hangus terbakar. Tangan kanannya cekatan mengambil dan memilah. Bagian-bagian yang tak bisa ditukar rupiah, ia sisihkan sekenanya. Dan di tangan kiri, sak putih lusuh digenggamnya kuat-kuat sebagai kantong tampungan rezeki.

Baca Juga

Bau gosong Bus Gegana sama sekali tak mengganggunya. Di pikirannya hanya ada 'makan enak' sampai esok hari, atau setidaknya hingga malam nanti. Qubil memang sangat akrab dengan segala keterbatasan, sebagai bagian dari masyarakat yang kurang beruntung. Hari-harinya sekadar harapan tentang sebuah kemapanan yang saban hari dilihatnya di jalanan jantung ibu kota.

Dia tinggal di Kramat Dalam. Jaraknya tak jauh dari Markas Gegana di Kramat, Jakarta Pusat, tempatnya kini mencari sisa-sisa bagian kendaraan yang bisa diambil untuk dijual. Tidak lebih dari 200 meter. Maka wajar ketika ia sampai di lokasi bus gosong itu, matahari belum juga sepenggalah.

Qubil tampak sedikit mengeluarkan tenaga saat menarik sebuah kabel telanjang di bagian depan bawah bus. Ya, kulit kabelnya sudah lenyap dimakan Si Jago Merah tadi malam. Ia lantas merentangkannya dan mendapati panjangnya lebih dari satu depa. Matanya pun kian berkilat saat ia tahu yang kini di tangannya adalah tembaga merah. Dia tahu persis harga tembaga bekas berkualitas seperti itu.

"Kalau yang begini bisa Rp 50 ribu per kilogram (kg), Mas. Kalau tembaganya nggak bagus paling Rp 30 ribu (per kg)," ujar Qubil menjelaskan kepada Republika, Sabtu (30/8/2025).

Qubil berencana meloakkan barangnya ke seorang pengepul langganan hari ini juga. Harga yang diucapnya dua menit lalu adalah patokan yang diingat untuk standar tembaga bekas. Meski tak pernah tahu persis selisih harga dari pengepul ke tengkulak dengan yang ia kantongi, senyum Qubil merekah mengingat kilauan barang hasil pertambangan itu.

Orang-orang seperti Qubil juga ramai di Halte Transjakarta Senen Sentral. Sebagian besar di antara mereka membawa bajaj biru untuk mengangkut hasil buruan. Halte yang ludes dilalap api itu kini hitam gosong dan pecah kacanya di sana-sini. Pemandangan itu sama sekali tak menyisakan kemegahan dan wibawa Halte Senen Sentral sebelum kerusuhan. Semua lenyap di Jumat malam.

Andri (32) di halte itu sibuk mengangkut barang-barang yang baru saja ia ambil. Meski ada petugas Transjakarta yang berjaga di sana, ia biasa saja. Andri mengambil dengan santai tanpa tergesa. Ternyata, mereka sudah bersepakat tentang barang yang bisa dan tak boleh dibawa. Aktivitas Andri dan teman-temannya pun diawasi. Beda dengan Qubil yang bebas mengambil apa saja, Andri harus mematuhi kesepakatan dengan petugas berseragam Transjakarta itu.

Sayangnya, satu barang yang tak boleh diambil adalah tembaga. Barang paling berharga dari sisa-sisa sebuah peristiwa kebakaran. Titik didih tembaga yang sangat tinggi, lebih dari 2.500 derajat Celcius, membuatnya tak goyah dan tetap gagah tanpa mengubah apapun jika sekadar 'api biasa' yang melahapnya. "Nggak boleh ambil sembarangan sama petugasnya, saya ambil seadanya saja," ujar Andri.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement