Jumat 04 Apr 2025 06:40 WIB

Kata yang Begitu Dicintai Trump Itu Ternyata dari Bahasa Arab

Kebijakan tarif impor Trump mengguncang dunia.

Presiden Donald Trump berbicara dalam acara pengumuman tarif baru di Rose Garden Gedung Putih, Rabu, 2 April 2025, di Washington. (
Foto: AP Photo/Evan Vucci
Presiden Donald Trump berbicara dalam acara pengumuman tarif baru di Rose Garden Gedung Putih, Rabu, 2 April 2025, di Washington. (

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Kata-kata “tarif” yang keluar dari mulut Presiden AS Donald Trump mengguncang perekonomian dunia. Ternyata, kata yang disebut Trump sangat ia cintai itu punya akar panjang yang mengular ke peradaban Islam.

Kecintaannya pada kata “tariff” dalam Bahasa Inggris itu pertama kali disampaikan Trump selepas dilantik sebagai presiden AS di Capital Plaza pada Januari lalu.  “Saya selalu mengatakan ‘tariff’ adalah kata yang paling indah dalam kosa kata saya,” ujarnya. Ia kemudian mengoreksi bahwa itu kata favoritnya setelah “god” alias ‘tuhan”, dan “religion” atau “agama”.

Baca Juga

Pada kesempatan lain, Trump mengatakan bahwa “tariff” adalah “kata yang paling indah dalam bahasa Inggris, lebih indah dari ‘love’, lebih indah dari apapun.” Bukan “omon-omon” belaka, kecintaan Trump pada kata itu mewujud dalam kebijakan-kebijakannya tak lama kemudian. 

Meksiko, Kanada, dan Cina yang mula-mula terdampak kebijakan tarif impor AS sebesar 25 persen beberapa waktu lalu. Sementara pada Rabu kemarin waktu AS, Trump menimpakan kata itu pada semua impor AS sebesar 10 persen. Indonesia masuk dalam sekitar 60 negara khusus yang produknya terkena tarif impor sebesar 32 persen.

Merujuk Aljazirah, kata favorit Trump dalam kamus Inggris tersebut memiliki sejarah panjang peminjaman atau “pembajakan” antarbahasa. Ia sebagaimana layaknya sebuah kata yang digunakan secara luas dalam transaksi bisnis internasional, yang memiliki sejarah kaya akan petualangan, penemuan, dan praktik pertukaran.

Dari bahasa Arab ke Persia, dari Turki ke Latin, lalu ke Perancis dan Inggris, kata “tarif” telah menyebar seiring berjalannya waktu seperti tiket perjalanan linguistik yang memuat sidik jari kerajaan, pedagang, dan pelaut. 

photo
Suasana di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Kamis (18//4/2024). Pedagang-pedagang Muslim menyebarkan bahasa Arab melalui pelabuhan-pelabuhan kuno seperti ini. - (Republika/Prayogi)

Istilah tarif dalam bahasa Inggris berasal dari kata Perancis “tarif”, yang berarti "harga tetap", yang berasal dari bahasa Italia “tariffa”, yang berarti "harga yang dibebankan", yaitu tabel pajak dan bea. Akar yang lebih tua adalah “tarif” dari Latin Tengah, yang masuk ke dunia Latin melalui kontak dengan masyarakat Turki, yang berasal dari bahasa Turki Utsmaniyah "taʿrife", yang berarti "daftar harga, tabel tarif bea cukai".

Istilah Turki ini, pada gilirannya, berasal dari bahasa Persia "taʿrefe", yang berarti "harga tetap, tanda terima", yang berasal dari bahasa Arab "taʿrīf", yang memiliki banyak arti seperti "pemberitahuan, deskripsi, definisi, pengumuman, konfirmasi, daftar biaya yang harus dibayar." Kata Arab ini merupakan akar kata kerja "ʿaraf", yang berarti "mengetahui, mampu mengenali, memahami, menemukan".

Hal inilah yang ditunjukkan oleh sebagian besar sumber akademis di bidang linguistik sejarah, filologi, dan studi perbandingan antara bahasa Indo-Eropa dan Semit (Arab). Namun beberapa peneliti mempunyai pendapat berbeda. 

Dalam bukunya "Smugglers and Sailors: A History of Customs in Australia", penulis David Day menunjukkan bahwa kata "tarif" berasal dari uang tebusan yang diminta oleh bajak laut di wilayah Pulau Tarifa (Spanyol: Tarifa), sebuah kotamadya di provinsi Cádiz, yang terletak di wilayah Andalusia di Spanyol selatan.

photo
Kegiatan para pejabat di masa Ottoman. - (public domains)

Sumber sejarah menyebutkan bahwa Pulau Tarifa dan wilayah Tarifa adalah pelabuhan pertama yang membebankan biaya kepada pedagang untuk penggunaan dermaganya, yang menyebabkan meluasnya penggunaan istilah tersebut. Nama pulau ini berasal dari penakluk Muslim Tarifa ibn Malik pada tahun 710 M, yang digambarkan sebagai Muslim pertama yang memasuki Semenanjung Iberia untuk misi militer.

Menurut Imran Abdullah dari Aljazirah, kata-kata adalah sejenis komoditas linguistik, yang membawa maknanya dari satu budaya ke budaya lain dan tunduk pada proses impor dan ekspor yang serupa dengan yang terjadi di pasar komersial. Sebagaimana setiap komoditas mempunyai sumbernya, setiap kata mempunyai asal usul linguistik yang mencerminkan keadaan asal usulnya. 

Ketika negara-negara mengenakan tarif pada produk impor, bahasa-bahasa tersebut pada gilirannya menerapkan konteks mereka sendiri pada istilah-istilah impor, memodifikasi atau mengadaptasinya agar sesuai dengan sistem fonetik dan tata bahasa mereka sendiri, sehingga menciptakan kata-kata campuran yang menggabungkan bahasa-bahasa yang berbeda.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement