Sabtu 29 Mar 2025 09:41 WIB

Rabi Yahudi: Zionis Israel Ajaran Sesat, Bertentangan dengan Kerajaan Surga

Zionisme berupaya menciptakan 'Yahudi baru', yang bertentangan dengan nilai ortodoks

Seorang pria Palestina berjalan melewati gedung-gedung yang hancur akibat pemboman pasukan zionis Israel di al-Zahra, di pinggiran Kota Gaza, Jumat (20/10/ 2023).  )
Foto: AP/Ali Mahmoud
Seorang pria Palestina berjalan melewati gedung-gedung yang hancur akibat pemboman pasukan zionis Israel di al-Zahra, di pinggiran Kota Gaza, Jumat (20/10/ 2023). )

REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM -- Rabbi Dov Lando, seorang pemimpin aliran Yudaisme ultra-Ortodoks Lithuania di Israel, mengkritik Zionisme dalam sebuah surat yang baru-baru ini dikirim kepada pemimpin redaksi Yated Ne'eman. Media itu merupakan salah satu surat kabar ultra-Ortodoks terkemuka di negara itu.

"Zionisme adalah sebuah gerakan yang bertujuan untuk menempatkan orang-orang Israel pada basis sekuler yang jelas, yang isinya adalah ajaran sesat dan pemberontakan terhadap Kerajaan Surga," tulis Lando kepada editor Rabbi Israel Friedman, seraya menambahkan bahwa 'tidak ada izin' untuk bergabung dengan kaum Zionis.

Baca Juga

Lando, mengepalai salah satu yeshiva (seminari ortodoks) tertua di Israel, dikenal karena pandangannya yang anti-Zionis. Selama wawancara di mana ia mengungkapkan isi surat Lando, Friedman juga membeberkan pandangan anti-Zionisnya.

Menurut Friedman, Zionisme berupaya menciptakan 'Yahudi baru', yang bertentangan dengan nilai-nilai masyarakat ultra-Ortodoks.

"Zionisme tidak sesuai dengan pandangan dunia kita," katanya. "Orang-orang Israel berusia 3.000 tahun, sedangkan orang-orang Israel 'baru' ada selama 80 tahun."

"Kita harus melanjutkan jalan kita dan mempertahankan tembok pemisah dan keterasingan," katanya, mengacu pada cara hidup Ortodoks.

Sejak dimulainya perang di Gaza, telah terjadi perdebatan publik yang sengit tentang apakah kaum ultra-Ortodoks harus mendaftar menjadi tentara.

Sejak berdirinya pemerintahan Israel, kaum ultra-Ortodoks telah dibebaskan dari wajib militer agar mereka dapat belajar di seminari. Studi-studi tersebut didanai oleh negara. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement