Rabu 24 Jul 2024 16:09 WIB

Polisi Jerman Serbu Masjid Biru di Hamburg, Terkait Israel?

Kepolisian Jerman menekan aksi pro-Palestina di negara itu.

Petugas polisi Jerman berjalan saat penggerebekan di halamanMasjid Imam Ali (Masjid Biru), di Hamburg, Jerman, Rabu 24 Juli 2024.
Foto: Daniel Bockwoldt/dpa via AP
Petugas polisi Jerman berjalan saat penggerebekan di halamanMasjid Imam Ali (Masjid Biru), di Hamburg, Jerman, Rabu 24 Juli 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, HAMBURG – Puluhan petugas polisi Jerman menggerebek Masjid Biru dan fasilitas Islamic Center di Hamburg pada Rabu pagi. Penindakan ini terjadi di tengah gencarnya negara tersebut menindak aksi-aksi bela Palestina.

Dilansir Aljazirah Arabia, penggerebekan itu terjadi setelah pihak berwenang memutuskan untuk melarang operasi masjid tersebut. Aparat Jerman juga menuduh pengurus masjid itu mempromosikan apa yang mereka gambarkan sebagai pemerintahan Islam yang otoriter.

Baca Juga

Kementerian Dalam Negeri Jerman mengumumkan pada Rabu bahwa mereka “melarang Islamic Center di Hamburg dan organisasi afiliasinya di seluruh Jerman karena merupakan organisasi Islam ekstremis dengan tujuan yang bertentangan dengan konstitusi,” menurut pernyataannya.

Kemendagri Jerman menuduh pusat tersebut sebagai "perwakilan langsung dari Pemimpin Tertinggi Revolusi Iran," dan menyatakan bahwa pusat tersebut menyebarkan ideologi Teheran "dengan cara yang bermusuhan dan ekstremis."

Islamic Center di Hamburg adalah sebuah asosiasi Muslim yang mengelola sebuah masjid di Hamburg dan telah menjadi subyek penyelidikan selama beberapa bulan karena dicurigai mendukung Hizbullah Lebanon.

Polisi menggerebek pusat dan fasilitas di 55 lokasi di seluruh Jerman pagi ini untuk kedua kalinya dalam beberapa bulan. Lusinan polisi terlihat mengelilingi Masjid Biru di Hamburg, sebuah masjid yang terletak di kawasan kelas atas di tepi Danau Outer Alster di Hamburg dan dikelola oleh Islamic Centre.

Pusat ini didirikan oleh imigran Iran pada tahun 1954 dan telah diawasi oleh badan intelijen dalam negeri selama beberapa waktu. Jerman mengklasifikasikan Hizbullah sebagai “organisasi ekstremis Syiah” dan pada 2020 melarang mereka melakukan aktivitas di wilayahnya.

Iran dan kelompok-kelompok yang didukungnya di Timur Tengah sejauh ini adalaah penentang utama agresi Israel di Jalur Gaza. Mereka secara sporadis melancarkan serangan ke Israel dari Lebanon, Yaman, Suriah, dan Irak.

Sebelumnya, polisi Jerman menindak keras pengunjuk rasa pro-Palestina pada Sabtu pekan lalu dan menahan banyak orang di Berlin. Selama unjuk rasa yang dimulai dari Lapangan Neptunbrunnen, para demonstran meneriakkan slogan-slogan seperti "Keuangan Jerman, bom Israel", "Teroris Israel", "Palestina milik kita" dan "Kemerdekaan untuk Palestina."

Ketegangan meningkat setelah tiga orang dengan pandangan berbeda mengibarkan bendera Israel di Potsdamer Platz, titik akhir pawai. Polisi melakukan intervensi keras terhadap mereka yang mendukung Palestina dan menahan banyak pengunjuk rasa. Dua demonstran perempuan terluka selama intervensi keras tersebut.​​​​​​​​

Sejak Tel Aviv melancarkan serangan brutalnya pada 7 Oktober, lebih dari 39.000 warga Palestina telah terbunuh di Jalur Gaza, sebagian besar dari mereka adalah wanita dan anak-anak, sementara lebih dari 89.600 orang terluka, menurut otoritas kesehatan setempat di Gaza.

Lebih dari sembilan bulan setelah perang Israel, sebagian besar wilayah Gaza hancur akibat blokade makanan, air bersih, dan obat-obatan yang melumpuhkan.

Israel dituduh melakukan genosida di Mahkamah Internasional, yang dalam keputusan terbarunya memerintahkan Tel Aviv untuk segera menghentikan operasinya di kota Rafah di selatan, tempat lebih dari 1 juta warga Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum wilayah itu diserang.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement