Selasa 09 Jul 2024 13:55 WIB

Cara Studi The Lancet Ungkap Jumlah Warga Gaza yang Dibunuh Israel Capai 186 Ribu Jiwa

Angka The Lancet empat kali dari data kematian resmi yang dirilis Kemenkes Gaza.

Para pengunsi Palestina berjalan melarikan diri meninggalkan kota Khan Younis, di Jalur Gaza pada Senin (1/7/2024). Tentara Israel memerintahkan evakuasi massal kepada warga Palestina di Khan Younis. Diduga militer Israel akan melancarkan serangan darat baru di kota terbesar kedua di Jalur Gaza tersebut.
Foto: AP Photo/Jehad Alshrafi
Para pengunsi Palestina berjalan melarikan diri meninggalkan kota Khan Younis, di Jalur Gaza pada Senin (1/7/2024). Tentara Israel memerintahkan evakuasi massal kepada warga Palestina di Khan Younis. Diduga militer Israel akan melancarkan serangan darat baru di kota terbesar kedua di Jalur Gaza tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, Sebuah laporan yang dipublikasi oleh jurnal medis, The Lancet, menganalisis data kematian dan memunculkan jumlah kematian yang disebabkan oleh aksi genosida Israel di Gaza bisa mencapai 186 jiwa. Angka itu empat kali dari angka resmi yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Gaza pada angka 38.200 orang.

"Jumlah korban tewas yang dilaporkan kemungkinan lebih rendah (dari jumlah sebenarnya). Lembaga Airwars melakukan penilaian rinci terhadap insiden-insiden di Jalur Gaza dan mendapati tidak semua nama korban yang teridentifikasi ada dalam daftar (korban tewas) otoritas setempat," demikian menurut kajian The Lancet.

Baca Juga

Dalam laporannya, The Lancet menggunakan perkiraan empat kematian 'tidak langsung' terjadi dari setiap warga Gaza yang terbunuh oleh bom, peluru, dan serpihan tajam. Angka kematian lebih dari 100 ribu orang pernah disebut oleh sumber lokal selama beberapa pekan terakhir dan dianggap dipercaya menimbang skala kehancuran di Gaza saat ini.

"Terlebih, PBB memperkirakan bahwa hingga 29 Februari 2024, 35 persen bangunan di Jalur Gaza telah hancur, sehingga kemungkinan jumlah jenazah yang masih tertimbun di reruntuhan bangunan yang hancur cukup besar dan diperkirakan melampaui angka 10.000," demikian tertulis dalam kajian itu.

Selain itu, 14 ribu bom dengan berat masing-masing 907 kg yang dipasok Amerika Serikat untuk Israel juga menyebabkan jumlah korban tewas sangat tinggi. Bom tersebut, selain membunuh secara langsung, juga menghancurkan infrastruktur di Jalur Gaza, sehingga memperburuk situasi krisis yang menyebabkan korban tewas terus bertambah.

Hancurnya fasilitas kesehatan, jaringan distribusi makanan, dan sistem sanitasi membuat warga Gaza yang masih bertahan terpaksa hidup dalam kondisi yang amat memprihatinkan.

"Jumlah korban tewas diperkirakan besar karena intensitas konflik, hancurnya sistem kesehatan, kelangkaan makanan, air bersih, dan tempat tinggal, ketidakmampuan warga untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman dan hilangnya pendanaan ke UNRWA," demikian bunyi kajian yang dirilis The Lancet.

 

The Lancet mengklaim studi saintifik mereka didasarkan pada sebuah sumber yang mana tidak mungkin bisa dibantah oleh propaganda Israel tercanggih sekalipun. Israel dan sekutunya seperti pemerintah Amerika Serikat dan Inggris, selama ini menggunakan taktik kerap menganggap statistik korban yang dirilis Hamas sebagai 'sampah', meski data-data itu terbukti akurat.

 

Dan karena data jumlah korban luka biasanya dua kali dari angka kematian, maka bisa diperkirakan lebih dari 370 ribu warga Gaza terluka, dan banyak dari mereka mengalami cacat fisik permanen. Angka-angka yang dirilis The Lancet mencerminkan skala penderitaan dua juta warga Gaza, di mana separuh dari populasi adalah anak-anak.

photo
Sembilan Bulan Pembantaian - (Republika)

 

sumber : Antara, Anadolu, WAFA-OANA, Sputnik
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement