Senin 29 Apr 2024 13:38 WIB

Gelora Tolak PKS Gabung Koalisi dan Sinyal dari Prabowo

Gelora mengungkit PKS yang kerap menyerang Prabowo pada masa kampenye Pilpres 2024.

Kader mengibarkan bendera Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada kampanye Pemilu 2024.
Foto: Dok PKS
Kader mengibarkan bendera Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada kampanye Pemilu 2024.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Febryan A, Eva Rianti, Nawir Arsyad Akbar, Febrian Fachri

Partai Gelora tempaknya akan menjadi ganjalan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bergabung dalam koalisi partai politik pendukung pemerintahan Prabowo-Gibran. Gelora yang elitenya adalah para mantan petinggi PKS, beralasan, partai yang dipimpin oleh Ahmad Syaikhu itu kerap menyerang Prabowo-Gibran sepanjang masa kampanye Pilpres 2024.

Baca Juga

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelora Mahfudz Siddiq merespons pernyataan elite PKS yang membuka peluang untuk bergabung dalam koalisi pendukung Prabowo-Gibran atau Koalisi Indonesia Maju (KIM). Mahfudz menyebut, apabila PKS gabung KIM, maka akan terjadi pembelahan antara PKS dengan pendukung fanatiknya yang kerap menyerang Prabowo-Gibran. 

"Jika sekarang PKS mau merapat karena alasan proses politik sudah selesai, apa segampang itu PKS bermain narasi ideologisnya? Apa kata pendukung fanatiknya? Sepertinya ada pembelahan sikap antara elite PKS dan massa pendukungnya," kata Mahfudz dalam keterangannya, Sabtu (27/4/2024).

Dia menjelaskan, pendukung PKS selama masa kampanye getol melakukan serangan negatif secara masif terhadap Prabowo, Gibran, dan juga Presiden Jokowi. Serangan itu dibungkus dengan narasi ideologis.

Salah satunya, kata dia, adalah narasi bahwa Nabi Musa tidak berutang kepada Firaun untuk menganalogikan bahwa Anies Baswedan tidak berutang kepada Prabowo meski dulu diusung sebagai calon gubernur di Pilgub DKI Jakarta 2017. Sebagai catatan, PKS adalah partai pengusung Anies-Muhaimin di Pilpres 2024.

Mahfudz menambahkan, pendukung PKS juga kerap menyebarkan narasi adu domba, bahkan sebelum Pilpres 2024. Salah satu contohnya adalah cap pengkhianat kepada Prabowo karena bergabung dalam kabinet pemerintahan Jokowi usai Pilpres 2019.

"Ketika pada 2019 Prabowo Subianto memutuskan rekonsiliasi dengan Jokowi, banyak cap sebagai pengkhianat kepada Prabowo Subianto. Umumnya datang dari basis pendukung PKS," kata Mahfudz, sosok yang dulunya adalah elite PKS.

PKS bersama PKB dan Partai Nasdem yang tergabung dalam Koalisi Perubahan diketahui mengusung Anies-Muhaimin di Pilpres 2024. Setelah jagoan mereka kalah, Koalisi Perubahan bubar. PKB dan Nasdem langsung gerak cepat bergabung dalam koalisi partai pendukung pemerintahan Prabowo-Gibran.

PKS belakangan memang memberikan semacam sinyal ingin bergabung dalam koalisi Prabowo. Elite PKS mengucapkan selamat dan hadir dalam acara penetapan Prabowo-Gibran sebagai presiden-wakil presiden terpilih pada Rabu (24/4/2024).

Di sela acara tersebut, Sekjen PKS Habib Aboe Bakar Al-Habsyi mengaku berharap Prabowo mengunjungi markas PKS. Beberapa hari berselang, Aboe mengundang Prabowo datang dalam acara perayaan ulang tahun partainya di markas PKS yang digelar hari ini, Sabtu. Namun, Prabowo tak hadir.

photo
Karikatur Opini Republika : Nasehat Presiden - (Republika/Daan Yahya)

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement