Ahad 07 Apr 2024 17:43 WIB

Hasil Studi Ungkap Tingkat Pendidikan Orang Tua Pengaruhi Pola Asuh anak

Orang tua dengan pendidikan yang lebih tinggi memiliki kesadaran yang lebih baik.

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Gita Amanda
Dari hasil studi yang dilakukan itu menunjukkan, perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi, dan tempat tinggal pengasuh menjadi elemen yang berpengaruh terhadap optimalnya pengasuhan anak. (ilustrasi)
Foto: Freepik
Dari hasil studi yang dilakukan itu menunjukkan, perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi, dan tempat tinggal pengasuh menjadi elemen yang berpengaruh terhadap optimalnya pengasuhan anak. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tanoto Foundation bersama School of Parenting melakukan studi terkait praktik pengasuhan anak. Dari hasil studi yang dilakukan itu menunjukkan, perbedaan tingkat pendidikan, ekonomi, dan tempat tinggal pengasuh menjadi elemen yang berpengaruh terhadap optimalnya pengasuhan anak.

“Semakin tinggi tingkat pendidikan dan ekonomi orang tua atau pengasuh, cenderung semakin baik juga kualitas pengasuhan terhadap anak,” ucap ECED Ecosystem Lead Tanoto Foundation Fitriana Herarti lewat siaran pers, Ahad (7/4/2024).

Baca Juga

Dia menjelaskan, pengasuh dengan pendidikan yang lebih tinggi memberikan permainan yang lebih bervariasi. Permainan yang dimaksud seperti mainan fisik-motorik, edukatif, dan imajinatif seperti bermain peran, yang memberikan kesempatan anak bermain secara konstruktif.

“Sedangkan sebaliknya pengasuh dengan pendidikan dan ekonomi yang lebih rendah memberikan lebih banyak aktivitas fisik seperti berlari, menarik, dan mendorong yang hanya melatih motorik,” jelas dia.

Selain itu, orang tua dengan pendidikan yang lebih tinggi juga memiliki kesadaran yang lebih baik untuk menstimulasi anak dengan membacakan buku. Dari studi itu ditemukan, hanya 21,4 persen dari responden yang membacakan kepada anaknya minimal tiga kali seminggu.

“Sedangkan 56,6 persen orang tua tidak pernah membacakan buku kepada anaknya. Temuan ini juga senada dengan rendahnya tingkat literasi di Indonesia yang juga perlu ditingkatkan,” kata Fitriana.

Pemberian materi belajar juga menjadi temuan dari studi tersebut. Di mana objek belajar merupakan media penting untuk menunjang proses belajar anak. Belajar dalam konteks ini adalah kesempatan anak memahami lingkungan sekitar melalui inderanya dan eksplorasi terhadap lingkungan sekitarnya, bukan belajar dalam sistem pendidikan yang terstruktur.

“Ruangan khusus untuk bermain atau belajar, alat belajar, dan mainan sebagian besar dapat diakses oleh responden yang berdomisili di perkotaan, sedangkan tidak lebih dari 29 persen pengasuh yang tinggal di pedesaan memiliki atau dapat memberikan materi pembelajaran kepada anaknya,” jelas perwakilan dari School of Parenting, Dhisty Azlia Firnandy.

Di luar semua itu, kata dia, pengetahuan pengasuh menjadi faktor pendukung lain dalam terciptanya pengasuhan yang optimal. Dari studi tersebut pihaknya menemukan 44 persen orang tua kurang memahami pemberian stimulasi sesuai usia anak. Hal itu disebabkan karena pengetahuan tentang tumbuh kembang dan stimulasi anak yang mereka miliki masih rendah.

“Berdasarkan studi ini, kami rasa diperlukan intervensi berbagai pihak baik pemerintah dan swasta untuk mendukung orang tua dan anak terutama dari keluarga kurang mampu dalam upaya peningkatan kesadaran dan keterampilan pengasuh, edukasi pengasuhan yang tepat, dan penyediaan materi pembelajaran untuk anak,” kata Fitriana.

Country Head Tanoto Foundation Indonesia Inge Kusuma mengatakan, studi ini merupakan salah satu bentuk komitmen Tanoto Foundation untuk meningkatkan pengasuhan anak usia dini untuk pengembangan kualitas sumber daya manusia di Indonesia di masa depan.

“Kami harap studi ini juga dapat memunculkan studi-studi lain di bidang pengembangan, pengasuhan dan pendidikan anak usia dini yang berkontribusi kepada peningkatan kualitas pola pengasuhan anak usia dini di Indonesia,” ucap Inge.

Studi ini dilakukan di tiga kota di Indonesia yaitu DKI Jakarta, Pandeglang, dan Kupang, dengan melibatkan 1.200 orang tua pada bulan Februari hingga Maret 2023. Studi ini menggunakan instrumen HOME (Home Observation Measurement Environment/Pengukuran Observasi Rumah dan Lingkungan) yang diadaptasi sesuai konteks Indonesia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement