Senin 18 Mar 2024 06:09 WIB

Penjelasan Mengapa Luar Angkasa Gelap dari BRIN dan Peredaran Matahari Menurut Surat Yasin

Viral pertanyaan mengapa luar angkasa gelap padahal ada Matahari di tata surya kita.

Gambar dari teleskop luar angkasa Hubble menunjukkan dua galaksi yang tampak bertabrakan tetapi sebenarnya hanya tumpang tindih secara kebetulan.
Foto: ESA Hubble
Gambar dari teleskop luar angkasa Hubble menunjukkan dua galaksi yang tampak bertabrakan tetapi sebenarnya hanya tumpang tindih secara kebetulan.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Antara, Muhyiddin

Belakangan viral di media sosial unggahan konten kreator yang mempertanyakan mengapa luar angkasa gelap gulita padahal ada Matahari di tata surya kita. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pun menerangkan, bahwa penyebab luar angkasa selalu gelap akibat tidak ada atmosfer yang menyamburkan cahaya matahari.

Baca Juga

"Oleh karenanya Matahari, bulan, dan bintang-bintang bisa tampak berdampingan," kata Peneliti Astronomi dan Astrofisika BRIN Thomas Djamaluddin saat dihubungi di Jakarta, Ahad (17/3/2024).

Menurut Thomas, luar angkasa merupakan ruang hampa yang tidak memiliki atmosfer untuk menyebarkan cahaya bintang atau Matahari. Cahaya Matahari merambat dalam garis lurus tanpa hamburan, sehingga luar angkasa terlihat gelap akibat tidak ada apa pun yang menyebarkan atau memancarkan kembali cahaya matahari ke mata.

Ketiadaan atmosfer itulah yang membuat manusia tidak melihat bagian dari cahaya Matahari dan langit tampak hitam. BRIN mengungkapkan, bahwa Matahari adalah salah satu bintang paling dekat dengan bumi. Aktivitas dan pengaruh Matahari sangat besar terhadap kehidupan umat manusia. 

BRIN pun saat ini tengah melakukan berbagai penelitian terhadap berbagai fenomena yang muncul pada Matahari untuk mengetahui seberapa besar dampak perubahan yang dialami oleh bintang tata surya tersebut bagi planet bumi.  Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN Johan Muhamad mengatakan tahun ini pihaknya ada penelitian mengenai pergerakan bintik Matahari.

"Di Matahari ada bintik hitam yang kami sebut sebagai sun spot. Bintik itu mengalami perubahan tentang kemunculan dan juga kecepatan pergerakannya," kata Johan melalui dialog bertajuk "Riset Matahari dan Aktivitasnya" yang dipantau di Jakarta, Jumat pekan lalu.

BRIN mengkaji fenomena bintik Matahari tersebut menggunakan peralatan yang sudah terpasang di salah satu balai pengamatan yang terletak di Jawa Timur. Fasilitas balai pengamatan itu telah melakukan pengamatan bintik Matahari selama puluhan tahun dan masih berlangsung hingga saat ini.

Selain meneliti bintik Matahari, lanjutnya, BRIN juga meneliti filamen Matahari atau umum dikenal sebagai lidah api Matahari. Kemunculan lidah api Matahari kadang bisa terlepas dan meledak hingga menimbulkan efek ke bumi.

"Kami mengkaji lidah api tersebut dari mulai evolusinya, pembentukannya sampai karakteristiknya, sehingga kita bisa mengetahui seperti apa filamen yang berbahaya bagi bumi," kata Johan.

photo
Aktivitas matahari naik. - (republika)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement