Ahad 17 Mar 2024 06:18 WIB

KH Said Aqil Siradj: Politik Identitas 212 Haram dalam Alquran

Menurut Said Aqil, praktik politik identitas masih ada pada Pemilu 2024.

Rep: Antara/ Red: Erik Purnama Putra
Eks ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj.
Foto: Republika/Prayogi
Eks ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siradj menegaskan praktik politik identitas dengan menggunakan agama merupakan hal yang diharamkan dalam Alquran. Menurut dia, politik identitas hanya akan memecah belah bangsa.

"Sangat berbahaya agama menjadi alat politik. Sama sekali tidak benar dan itu haram hukumnya dalam Al-Quran," kata Said saat menjadi pembicara dalam acara 'Semangat Pluralisme untuk Merawat Bhinneka Tunggal Ika' di Clubhouse Jakarta Garden City, Jakarta Timur, Sabtu (16/3/2024).

Baca: Prabowo Dapat Ucapan Selamat dari Presiden Palestina

Menurut Said, praktik politis bisa pula menimbulkan konflik besar di tengah masyarakat. Selain itu, praktik politik identitas akan membahayakan pihak minoritas karena akan dengan mudah menjadi target tindakan intimidasi dari pihak mayoritas.

Said mencontohkan fenomena 212 yang lahir karena adanya praktik politik identitas. Untuk itu, ia secara tegas menolak kegiatan 212 karena tidak sesuai dengan prinsip agama Islam.

"Saya satu-satunya yang terang-terangan menolak 212. Mereka mengatakan kebangkitan Islam? Itu bukan (kebangkitan Islam) karena tidurnya di masjid, shalatnya di Monas. Kalau kebangkitan Islam ya tidur di jalan, shaolat di masjid," katanya.

Baca: Kalah Bersaing, Mulyanto Ahli Nuklir PKS Gagal Lolos ke Senayan

Usai mengisi acara talk show tersebut, Said kembali menjelaskan bahaya politik identitas kepada wartawan. Saat ditanya mengenai adanya praktik politik identitas pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, dia mengaku hal itu masih ada. "Masih ada, masih ada (politik identitas), mudah mudahan lama-lama hilang," kata Said.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement