Selasa 12 Mar 2024 21:20 WIB

Warga NTT Dapat Edukasi Diversifikasi Pangan Lokal

Edukasi ini guna tekan konsumsi makanan rendah gizi dan mandiri pangan lokal.

Hasil panen jagung (ilustrasi).  Petani Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) antusias mendukung program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS).
Foto: Kementan
Hasil panen jagung (ilustrasi). Petani Nusa Tenggara Timur (NTT) khususnya di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) antusias mendukung program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ibu rumah tangga hingga siswa sekolah dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT), mendapat edukasi tentang gerakan konsumsi pangan lokal (diversifikasi).

"Kami ingin masyarakat memperbanyak makanan lokal (diversifikasi) dari pada makanan rendah gizi seperti junk food atau mi instan," kata Co Founder Komunitas Finbargo, Burman.

Baca Juga

Tiga komunitas dari Finbargo, BergunaID dan Amartha melakukan edukasi. Mereka memulai kegiatan itu dari Kecamatan Larantuka, Flores Timur, NTT. Di sana, mereka mengajak masyarakat dari kalangan ibu rumah tangga hingga siswa sekolah dasar untuk mengkonsumsi pangan lokal yang tersedia di daerah tersebut.

Burman mengatakan, saat ini banyak dari kalangan anak muda yang memilih makanan cepat saji dari pada makanan tinggi serat dan tinggi protein. Dia berharap, anak muda mulai menyadari untuk sadar pangan lokal dan mengkonsumsi makanan tinggi gizi yang ada di sekitarnya.

"Kami ingin membangkitkan konsumsi pangan lokal untuk mengalihkan anak muda dari kebiasaan makanan junk food, mi instan dan lain-lain. Itulah gerakan kami, kami ingin merubah mindset anak muda. Ini gerakan jangka panjang untuk Indonesia," kata Burman.

Komunitas Finbargo berharap gerakan positif yang dilakukan akan membesar sebagai gerakan masif dan mendapatkan dukungan banyak pihak, termasuk pemerintah pusat dan daerah.

Ketua Komunitas BergunaID Rofinus Marianus Monteiro berharap sosialisasi tersebut menjadi gerakan masif. Bukan hanya di Larantuka tapi juga di semua daerah sehingga ke depan Indonesia betul-betul mampu menjadi bangsa yang memiliki kekuatan mandiri pangan.

"Makanan lokal itu kan tersebar di semua daerah. Jadi saya berharap gerakan ini menjadi gerakan yang masif dan dirasakan oleh ibu-ibu dan juga siswa sekolah lainnya sehingga kita bisa mandiri pangan. Itu sih pesan yang ingin kita sampaikan," kata Rofinus.

Menurut pria yang akrab disapa Vino ini, kesadaran harus dibangun mulai dari sekarang untuk mengubah pikiran masyarakat terhadap pentingnya gizi bagi kesehatan. Kaum ibu, khususnya bisa memulai dengan gerakan tanam di pekarangan rumahnya masing-masing.

"Ibu-ibu harus kembali sadar dan kembali ke pangan lokal. Karena itulah kita menggelar kegiatan ini, dimulai dari Kecamatan Larantuka," kata Vino.

Sementara itu, Head of Impact and Sustainability Amartha, Katrina Inandia menambahkan bahwa jenis makanan lokal yang mudah didapatkan adalah jagung dan sorgum. Keduanya memiliki sumber serat dan juga sumber lemak pengganti beras atau karbohidrat lainnya.

"Contoh hari ini beras mahal kan, padahal ada makanan lain sebagai penggantinya. Kita punya jagung, sorgum dan sumber lemak sumber serat lainnya. Lebih dari itu mereka bisa menggali sendiri apa yang mereka punya di daerahnya masing-masing," kata Katrina.

 

sumber : ANTARA

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement