Jumat 01 Mar 2024 15:55 WIB

Waspada Lahar Dingin Merapi Saat Hujan

Dalam 24 jam terakhir, Merapi setidaknya sudah mengeluarkan 10 kali guguran lava.

Rep: Silvy Dian Setiawan / Red: Gita Amanda
Lahar dingin Gunung Merapi.
Foto: Antara
Lahar dingin Gunung Merapi.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Masyarakat diimbau untuk mewaspadai bahaya lahar Gunung Merapi. Terutama bagi masyarakat yang beraktivitas di sungai-sungai yang berhulu di Merapi.

Hal ini mengingat terjadi hujan di puncak dan lereng Merapi, Jumat (1/3/2024). Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mengatakan bahwa hujan tersebut sudah terjadi sejak pukul 12.05 WIB siang.

Baca Juga

Hingga pukul 12.47 masih terjadi hujan di kawasan tersebut. Total curah hujan di puncak dan lereng Merapi dilaporkan 2,20 milimeter. "Waspada bahaya lahar di sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi," kata Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, Jumat (1/3/2024).

BPPTKG juga meminta agar masyarakat mewasapdai awan panas guguran (APG) di daerah potensi bahaya. Hal ini mengingat Merapi masih terus mengeluarkan APG, termasuk guguran lava. "Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah bahaya yang direkomendasikan," ucap Agus.

Dalam 24 jam terakhir, Merapi setidaknya sudah mengeluarkan 10 kali guguran lava ke arah Kali Bebeng dengan jarak luncur maksimum 1.500 meter. "Terdengar satu kali suara guguran dengan intensitas sedang dari Pos (Pengamatan Merapi) Babadan," jelasnya.

Untuk itu, BPPTKG pun kembali mengingatkan potensi bahaya Merapi saat ini masih berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya, dan pada sektor tenggara. Pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer.

Namun, potensi bahaya pada sektor tenggara yakni meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol lima kilometer. Sedangkan, lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.

"Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung, yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya," kata Agus.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement