Ahad 04 Feb 2024 17:15 WIB

Makna Megawati Pukul Kentungan di Kampanye Akbar Ganjar-Mahfud

Antropolog menjelaskan arti Megawati pukul kentungan di kampanye Ganjar-Mahfud.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Erdy Nasrul
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (kedua kanan) bersama Cawapres nomor urut 3 Mahfud MD (kiri), Ketua DPP PDIP Puan Maharani (kedua kiri) dan Prananda Prabowo (kanan) memukul pentungan saat acara Konser Salam M3tal (Menang Total) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (3/2/2024). Kampanye yang mengangkat tema Harapan Jutaan Rakyat dan Konser Salam Metal Menang Total dihadiri ribuan relawan Ganjar-Mahfud dari Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Foto: Republika/Putra M. Akbar
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (kedua kanan) bersama Cawapres nomor urut 3 Mahfud MD (kiri), Ketua DPP PDIP Puan Maharani (kedua kiri) dan Prananda Prabowo (kanan) memukul pentungan saat acara Konser Salam M3tal (Menang Total) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (3/2/2024). Kampanye yang mengangkat tema Harapan Jutaan Rakyat dan Konser Salam Metal Menang Total dihadiri ribuan relawan Ganjar-Mahfud dari Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri memimpin pemukulan 10 ribu kentungan cara kampanye akbar Ganjar Pranowo-Mahfud MD, di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada Sabtu (3/2/2023).

Antropologi Universitas Airlangga (Unair) Toetik Koesbardiati menyebut pemukulan kentungan yang dilakukan Megawati tersebut merupakan simbol kewaspadaan.

Baca Juga

Toetik menjelaskan, kentungan yang terbuat dari bambu dan dilubangi sedemikan rupa adalah alat sederhana yang saat dipukul memberikan informasi terkait suatu kejadian. "Biasanya etnis Jawa dan Bali yang memiliki adat kentungan ini," kata Toetik, Ahad (4/2/2024).

Setiap nada dan tempo pada kentungan memiliki makna yang berbeda. Misalnya, berita kematian akan berbeda bunyinya dengan ancaman bahaya. "Berbeda pula jika ada undangan untuk berkumpul seperti rapat atau kenduri," ujarnya.

Jika bunyi dan tempo 6 kali lalu jedah dan diulang 6 kali (doro muluk) adalah tanda ada kematian. Selain itu, lanjut Toetik, kentungan yang dibunyikan secara cepat dan tidak berjedah adalah simbol tanda bahaya.

Terkait bunyi dan tempo 10 ribu kentungan yang dibunyikan Megawati tersebut, menurutnya terdengar dengan tempo cepat tanpa jeda. Artinya, kata dia, bunyi kenyungan teraebut termasuk ssbagai tanda bahaya.

"Kalau jumlah 10 ribu kentongan gak bermakna simbol. Yang simbol adalah nada dan tempo kentongan. Apakah Bu Mega membunyikan kentongan dengan nada dan tempo tanpa jedah? Kalau iya, berarti tanda waspada," ucapnya.

Sebelumnya, Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan, pemukulan kentongan ini sebagai simbol agar masyarakat tersadar untuk ikut menjaga kewaspadaan, melawan intimidasi dan kecurangan yang mungkin terjadi di Pilpres 2024. Selain itu, kata dia, yang paling utama adalah mengamankan suara Ganjar-Mahfud pada 14 Febuari 2024.

"Masyarakat pun diajak untuk ikut berpartisipasi mengawal Oemilu yang Jurdil dan mengamankan suara Ganjar-Mahfud di Pilpres 2024," kata Hasto.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement