Jumat 19 Jan 2024 07:04 WIB

Innalillahi, Budayawan-Penyair Abdul Hadi WM Meninggal Dunia

Penyair sufistik, Prof Abdul Hadi WM, wafat menjelang subuh hari ini, Jumat.

Prof Abdul Hadi WM saat membacakan puisi di Aula KH Ahmad Dahlan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, 26 Agustus lalu.
Foto: dok muhammadiyah
Prof Abdul Hadi WM saat membacakan puisi di Aula KH Ahmad Dahlan Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta, 26 Agustus lalu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kabar duka datang dari dunia kesusastraan Indonesia. Penyair yang juga budayawan, Prof Abdul Hadi Wiji Muthari (WM), meninggal dunia pada pukul 03.36 WIB dini hari ini, Jumat (19/1/2024). Guru besar Universitas Paramadina Jakarta itu wafat dalam usia 77 tahun.

Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka, Vila Mahkota Pesona Jatiasih, Bojong Kulur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dari RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Adapun pemakaman akan dilakukan bakda shalat Jumat pada hari ini. Dalam keterangan yang diterima Republika dari pihak keluarga almarhum, jenazah akan dimakamkan di taman permakaman setempat.

Baca Juga

Melalui akun Instagram resmi, Universitas Paramadina menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya salah seorang akademisi kampus tersebut. Selama ini, Prof Abdul Hadi WM dikenal luas akan sumbangsih pemikiran dan karya-karyanya dalam bidang filsafat dan kesusastraan Islam, khususnya yang bertema sufi. Ia termasuk satu dari segelintir ilmuwan yang meneliti sang "bapak sastra Indonesia", Hamzah Fansuri--hidup pada abad ke-16 M.

"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un. Telah berpulang ke Rahmatullah, Prof Dr Abdul Hadi WM (1946-2024) selaku guru besar dan dosen Program Studi Falsafah dan Agama Universitas Paramadina. Semoga segala amal ibadahnya diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran serta keikhlasan," demikian petikan pernyataan duka Universitas Paramadina, Jumat (19/1/2024).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Islam Madani Paramadina (@im_paramadina)

Prof Abdul Hadi WM lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, pada 24 Juni 1946. Ayahnya, K Abu Muthar, merupakan seorang guru bahasa Jerman yang juga berdagang. Dari bapaknya, ia mendapatkan darah Tionghoa. Adapun ibunya, RA Martiya, merupakan keturunan keraton Surakarta.

Abdul Hadi menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada. Ia juga mempelajari filsafat Barat di kampus yang sama, tetapi tidak sampai selesai. Ia beralih ke Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung dan mengambil program studi Antropologi. Selama setahun sejak 1973-1974 Hadi bermukim di Iowa, Amerika Serikat untuk mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, lalu di Hamburg, Jerman selama beberapa tahun untuk mendalami sastra dan filsafat.

Pada 1992, Abdul Hadi WM mengambil gelar master dan kemudian doktor filsafat dari Universitas Sains Malaysia (USM). Di sana, dirinya pun sempat menjadi dosen. Kembali ke Indonesia, salah seorang pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ini menerima tawaran dari sahabatnya, Prof Nurcholis Madjid, untuk mengajar di Universitas Paramadina. Kampus di Jakarta itu pada 2008 mengukuhkannya sebagai guru besar dalam bidang Falsafah dan Agama.

 

photo
 - (dok ist)

Sebagai seorang penyair, Abdul Hadi WM telah menghasilkan sejumlah kumpulan sajak. Di antaranya adalah Laut Belum Pasang (1971), Cermin (1975), Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975), Meditasi (1976), Tergantung pada Angin (1977), Anak Laut Anak Angin (1984), serta Pembawa Matahari (2002). Beberapa telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, semisal At Last We Meet Again (1987) dan kumpulan sajaknya bersama Darmanto Yatman dan Sutardji Calzoum Bachri, Arjuna in Meditation. Selain bahasa Inggris, sajak-sajak karya suami Atiek Koentjoro ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa asing, yakni Jerman, Prancis, Jepang, Belanda, Cina, Korea, Thailand, Arab, Urdu, Bengali, dan Spanyol.

Abdul Hadi WM juga terkenal sebagai seorang editor buku, pengulas, dan penerjemah karya-karya sastra Islam dan karya sastra dunia. Dalam bidang ini, ia telah menghasilkan sejumlah buku. Di antaranya adalah Sastra Sufi: Sebuah Antologi (terjemahan dan esai, 1985); Ruba'yat Omar Khayyam (terjemahan dan esai, 1987); Kumpulan Sajak Iqbal: Pesan kepada Bangsa-Bangsa Timur (terjemahan puisi dan pembahasan, 1986); Pesan dari Timur: Muhammad Iqbal (terjemahan dan esai, 1987); Rumi dan Penyair (terjemahan puisi dan esai, 1987): Faust I (terjemahan karya Goethe, 1990); Kaligrafi Islam (terjemahan karya Hasan Safi, 1987); Kehancuran dan Kebangunan (1987, terjemahan kumpulan puisi Jepang); serta Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya (Mizan, Bandung, 1995).

Beberapa buku kumpulan esai karyanya adalah Kembali ke Akar Kembali ke Sumber: Esai-Esai Sastra Profetik dan Sufistik (1999), Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya (1999), dan Tasawuf yang Tertindas: Kajian Hermeneutik terhadap Karya-Karya Hamzah Fansuri (2001).

Abdul Hadi WM menerima sejumlah penghargaan atas prestasinya dalam bidang kebudayaan maupun kesusastraan. Misalnya, apresiasi dari majalah sastra Horison atas sajaknya, "Madura" (1968). Kemudian, Hadiah Buku Puisi Terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada tahun 1977 atas buku kumpulan sajaknya, Meditasi (1976).

Pemerintah RI memberikan Hadiah Seni kepada bapak tiga orang putri ini atas prestasinya dalam penulisan sajak pada 1979. Pemerintah Kerajaan Thailand juga memberikan Hadiah Sastra ASEAN kepada Abdul Hadi WM pada 1985 atas karyanya, Tergantung Pada Angin (1983). Beberapa pengamat sastra Indonesia mengakui besarnya sumbangsih almarhum untuk khazanah sastra Islam, termasuk perannya bersama dengan Prof Kuntowijoyo dalam wacana sastra profetik.

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement