Selasa 16 Jan 2024 17:46 WIB

BI Sebut El Nino Dapat Menghambat Pertumbuhan Ekonomi NTT

El Nino dapat menurunkan produktivitas tanaman dan produksi perikanan di NTT.

Seorang petani berjalan di atas lahan yang sempat menjadi danau baru akibat siklon Seroja pada awal April 2021 lalu di Kelurahan Sikumana, Kota Kupang, NTT, Rabu (26/5/2021).
Foto: Antara/Kornelis Kaha
Seorang petani berjalan di atas lahan yang sempat menjadi danau baru akibat siklon Seroja pada awal April 2021 lalu di Kelurahan Sikumana, Kota Kupang, NTT, Rabu (26/5/2021).

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Kepala Kantor Bank Indonesia Perwakilan Wilayah Nusa Tenggara Timur, Agus Sistyo Widjajati mengatakan, fenomena El Nino dapat menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi di provinsi berbasis kepulauan itu.

"Musim pancaroba dengan potensi siklon El Nino dapat menurunkan produktivitas tanaman dan produksi perikanan di NTT," kata Agus di Kupang, Selasa (16/1/2024).

Baca Juga

Hal ini disampaikannya berkaitan dengan prediksi BI Perwakilan Wilayah NTT terhadap pertumbuhan ekonomi NTT pada 2024 yang diproyeksi akan naik pada rentang 2,74 hingga 3,53 persen kumulatif per kumulatif (ctc). El Nino yang berdampak pada penurunan curah hujan perlu diwaspadai karena akan berdampak pada stok pangan serta akan menyebabkan inflasi di NTT.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT sendiri memastikan bahwa akan ada gagal panen pada 2024 ini jika pelaksanaan tanam tidak bergeser. Kini para petani diimbau untuk mulai menanam selama Januari hingga Februari 2024. Hal ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena proses tanam dimulai pada Oktober setiap tahunnya.

Selain El Nino, beberapa hal yang dapat menjadi penghambat pertumbuhan ekonomi di NTT adalah potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) kebijakan penurunan produksi oleh negara OPEC di tengah ketidakpastian global. Selain itu, juga eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Israel berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia dan komoditas global. Selain itu, kenaikan harga komoditas pangan strategis akibat gangguan pasokan yang berpotensi memengaruhi daya beli masyarakat. 

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement