Senin 15 Jan 2024 15:14 WIB

Ekonom Faisal Basri Mengenang Peristiwa Malari 50 Tahun Lalu

Faisal Basri mempersoalkan menguatnya pengaruh Cina di Indonesia.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Erik Purnama Putra
Ekonom Faisal Basri mengingat Peristiwa Malari.
Foto: Republika/ Wihdan
Ekonom Faisal Basri mengingat Peristiwa Malari.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekonom Faisal Basri masih mengingat dengan jelas Peristiwa 15 Januari 1974 atau lebih dikenal dengan Malari. Faisal mengingatkan, semangat perlawanan yang diperjuangkan dalam peristiwa itu patut untuk diteruskan oleh generasi saat ini.

Hal tersebut disampaikan Faisal dalam peringatan 50 Tahun Peristiwa 15 Januari 1974 yang digelar oleh Indonesian Democracy Monitor di Jakarta Pusat pada Senin (15/1/2024). Faisal saat itu sudah menyadari pentingnya melawan modal asing yang berpotensi mengganggu kedaulatan bangsa.

"Ada peringatan Malari, 50 tahun lalu saya masih SMP, semangatnya saat itu lawan korupsi, lawan dominasi Jepang," kata Faisal.

Setelah 50 tahun berlalu, Faisal mengamati, kondisi bangsa saat ini masih diperburuk oleh cengkeraman asing terhadap Tanah Air. Salah satu yang dipersoalkan Faisal ialah kuatnya pengaruh Cina di Indonesia.

"Sekarang lebih parah lagi. Melawan oligarki, melawan dominasi Cina yang dibuka jalan tolnya oleh (Presiden) Jokowi," ujar eks sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut.

Faisal menyinggung pemerintah Indonesia yang membuka keran impor mobil buatan dari Cina. Dengan hal itu, sambung dia, mobil Cina melangkahi proses produksi mobil di dalam negeri yang menyerap tenaga kerja lokal.  "Sekarang mobil built up Cina boleh masuk Indonesia," lanjut Faisal.

Oleh karena itu, Faisal lantang menyuarakan gerakan massa guna menentang intervensi asing. Sebab Faisal khawatir generasi muda yang akan terdampak intervensi asing ini.

"Tidak mungkin kita diam, kalau kita diam saja maka sungguh akan hancur generasi yang akan datang," ujar Faisal.

Salah satu solusi yang ditawarkan Faisal adalah menggerakkan massa agar Jokowi dan kroninya tak lagi memimpin Indonesia. "Maka kita mulai dari pemilu, gerakan jalan, gerakan moral antara lain imbau dari hati ke hati atau pakai massa agar para menterinya mundur. Percaya deh Jokowi bangkrut," ujarnya.

"Kalau Jokowi dibayangkan (menjabat) sampai Oktober tiap hari bikin kerusakan tambah parah. Saatnya kejujuran memimpin bangsa ini," ujar Faisal menambahkan.

Aksi demonstrasi mahasiswa dalam peristiwa Malari berujung kerusuhan besar dengan menelan korban 11 orang tewas, 137 orang luka-luka, dan 750 orang ditangkap. Mereka gerah dengan kebijakan Presiden Soeharto yang membuka investasi asing besar-besaran

Penyebab peristiwa ini ialah kisruh investasi asing dan rencana kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka ke Indonesia yang menjadi pemantiknya. Gara-gara itu, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dicopot karena dianggap tidak bisa mengendalikan keamanan hingga terjadi kerusuhan di Jakarta.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement