Sabtu 16 Dec 2023 08:38 WIB

Marak Bunuh Diri dan KDRT, Pakar: Lemahnya Komunikasi Keluarga

Penting bagi keluarga menciptakan komunikasi yang hangat.

Rep: Febrian Fachri/ Red: Indira Rezkisari
Proses evakuasi empat jenazah anak di Jagakarsa, Jakarta Selatan yang diduga meninggal karena dikunci di dalam kamar oleh ayahnya sendiri, Rabu (6/12/2023). Tren KDRT dan bunuh diri meningkat.
Foto: Republika/Alkhaledi Kurnialam
Proses evakuasi empat jenazah anak di Jagakarsa, Jakarta Selatan yang diduga meninggal karena dikunci di dalam kamar oleh ayahnya sendiri, Rabu (6/12/2023). Tren KDRT dan bunuh diri meningkat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar Komunikasi Keluarga dari Universitas Andalas, Ernita Arif, mengatakan maraknya aksi bunuh diri, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bahkan sampai pembunuhan terhadap anggota keluarga dipicu oleh lemahnya faktor komunikasi di dalam keluarga. Ernita menyebut karena komunikasi kurang baik, ekspresi yang sehat untuk emosi dan perasaan anggota keluarga terutama yang sedang menghadapi masalah tidak tersalurkan dengan baik.

Hal tersebut kemudian memicu terjadinya kekerasan, aksi nekat bunuh diri, hingga ada yang tega membunuh anggota keluarga. “Memang yang paling sering memicu itu adalah masalah ekonomi. Tapi tentu juga ada peran komunikasi keluarga di sini yang lemah atau tidak berjalan dengan baik. Antara orang tua dengan anak, antara suami dengan istri, kakak dengan adik,” kata Ernita, kepada Republika.co.id, Sabtu (16/12/2023).

Baca Juga

 

Ernita menjelaskan komunikasi keluarga yang lemah akan berimbas antara lain,  kurangnya saluran ekspresi yang sehat untuk emosi dan perasaan. Menurut dia, anggota keluarga yang tidak dapat menyampaikan dan memahami perasaan anggota keluarga cenderung menumpuk emosi yang pada gilirannya dapat menyebabkan ledakan emosional dan kekerasan.

 

 

Kedua, kata Ernita miskomunikasi dan ketidakpahaman sehingga menimbulkan potensi konflik yang jika tidak diselesaikan dengan baik. Hal itu kemudian dapat berkembang menjadi situasi yang lebih serius, termasuk kekerasan dalam rumah tangga.

 

Ketiga, anggota keluarga merasa terabaikan atau tidak diperhatikan. Rasa kesepian dan isolasi ini lanjut Ernita dapat memicu perilaku kekerasan sebagai upaya untuk menarik perhatian

 

“Untuk itu ciptakan komunikasi yang hangat dalam keluarga dengan menghargai perasaan, saling terbuka, mendengarkan dengan penuh perhatian, saling mendukung, mengungkapkan cinta dan kasih sayang sehngga dapat membangun dasar yang kuat untuk kebahagiaan dan keharmonisan jangka panjang,” ucap Ernita.

 

Ernita menambahkan komunikasi yang hangat dalam keluarga meliputi penggunaan kata-kata, ekspresi wajah, dan gestur tubuh yang menyiratkan kasih sayang, perhatian, dan dukungan. “Tentunya hal tersebut diperlukan kesadaran, pemahaman, empati serta rasa keamanan dan kenyamanan bagi setiap anggota keluarga,” kata dia.

Kehidupan adalah anugerah berharga dari Allah SWT. Segera ajak bicara kerabat, teman-teman, ustaz/ustazah, pendeta, atau pemuka agama lainnya untuk menenangkan diri jika Anda memiliki gagasan bunuh diri. Konsultasi kesehatan jiwa bisa diakses di hotline 119 extension 8 yang disediakan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes juga bisa dihubungi pada 021-500-454. BPJS Kesehatan juga membiayai penuh konsultasi dan perawatan kejiwaan di faskes penyedia layanan
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement