Selasa 05 Dec 2023 17:28 WIB

Kasus Pneumonia Terdeteksi di Jakarta, Masyarakat Diserukan Pakai Masker

Kemenkes masih mengonfirmasi jumlah pasien yang dirawat kepada Dinkes DKI Jakarta.

Anak sakit (ilustrasi). Mycoplasma merupakan bakteri penyebab utama wabah pneumonia pada anak-anak di China
Foto: www.pixabay.com
Anak sakit (ilustrasi). Mycoplasma merupakan bakteri penyebab utama wabah pneumonia pada anak-anak di China

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Pambudi mengimbau masyarakat kembali disiplin memakai masker. Seruan itu disampaikannya menyusul adanya temuan kasus pneumonia di DKI Jakarta.

"Sudah ada laporan lisan dari fasilitas kesehatan (faskes) dan saat ini sedang dalam tahap konfirmasi oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta. Masyarakat diimbau memakai masker sebagaimana mestinya," kata Imran saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (5/12/2023).

Baca Juga

Imran menyampaikan, hingga saat ini Kemenkes masih mengonfirmasi jumlah pasien yang dirawat kepada Dinkes DKI Jakarta. Berdasarkan informasi terbaru dari fasilitas kesehatan yang menangani, pasien mengalami gejala ringan dan sedang dirawat jalan.

Sebelumnya, Imran juga menyebutkan bahwa mycoplasma, bakteri penyebab utama wabah pneumonia pada anak-anak di China, merupakan bakteri umum yang mengakibatkan infeksi pernapasan sebelum Covid-19.

"Di China, mycoplasma memang menjadi kasus terbanyak pada kasus pneumonia. Mycoplasma itu bakteri, bukan virus, dan merupakan penyakit penyebab umum infeksi pernapasan sebelum masa Covid-19," ucap Imran.

Imran menjelaskan, mycoplasma adalah penyebab umum influenza dan penyakit paru, dengan kejadian 8,6 persen. Berdasarkan informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terjadi peningkatan kasus mycoplasma pneumonia sejak Mei 2023 di China.

"WHO mendeteksi adanya sinyal pneumonia belum terdiagnosis, utamanya pada anak yang dipublikasikan di jurnal Promed pada 22 November 2023. Tiga dari empat pasien didiagnosis terinfeksi mycoplasma, selain ada pengaruh lainnya seperti SARS-COV dan influenza," ujar dia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement