Selasa 28 Nov 2023 20:35 WIB

Fakta Ilmiah Efektivitas Wolbachia Sudah Diakui Dunia

Penelitian terkait wolbachia sudah dilakukan sejak lama dan bertahap.

Petugas dari Dinas Kesehatan (Dinkes) memeriksa jentik nyamuk yang sudah disuntikkan bakteri Wolbachia.
Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
Petugas dari Dinas Kesehatan (Dinkes) memeriksa jentik nyamuk yang sudah disuntikkan bakteri Wolbachia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengemukakan fakta ilmiah terkait efektivitas nyamuk ber-Wolbachia dalam menekan laju kasus dengue atau demam berdarah telah diakui oleh dunia. "Penelitian ini sudah lama dilakukannya. Semua tahapan-tahapannya tidak ada yang di-by pass dan beberapa secara ilmiah sudah diuji," kata Budi Gunadi Sadikin dalam Rapat Kerja Komisi IX terkait Wolbachia diikuti dalam jaringan di Jakarta, Selasa (28/11/2023).

Ia mengatakan, penelitian nyamuk ber-Wolbachia telah masuk dalam salah satu jurnal kesehatan top dunia, New England Journal of Medicine, oleh Prof dr Adi Utarini, MSc, MPH, PhD, selaku peneliti sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Baca Juga

"Itu jurnal kesehatan yang susah banget masuknya, enggak semua profesor di dunia bisa masukin ke sana," katanya.  

Budi mengatakan, penelitian potensi risiko jangka panjang nyamuk ber-Wolbachia di Indonesia pada 2016 melibatkan 24 pakar independen dari berbagai bidang keilmuan dari sejumlah universitas terkemuka. Peneliti yang dimaksud di antaranya Prof Ir Damayanti Buchori, MSc, PhD selaku Ketua tim inti dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof dr Hari Kusnanto Joseph, SU, DrPH dari Fakultas Kedokteran UGM.  

Prof drh Upik Kesumawati Hadi, MS dari Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Prof Dr dr Aryati, SpPK(K) dari Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Prof dr Irawan Yusuf, MSc, PhD, dari Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin, dan Teguh Triono, PhD dari Lembaga Keanekaragaman Hayati (KEHATI). Hasilnya, kata Budi, seluruh potensi risiko jangka panjang dari inovasi nyamuk ber-Wolbachia dapat diabaikan.  

"Nama-nama peneliti ini kalau saya lihat di Twitter, Instagram, Facebook, orang-orang ini kan kredibilitasnya baik. Bukan orang sembarangan yang menguji," katanya.  

Penelitian nyamuk ber-Wolbachia juga telah lolos dari kajian Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI). AIPI adalah lembaga nonstruktural bersifat mandiri yang didirikan dengan tujuan menghimpun ilmuwan Indonesia terkemuka untuk memberikan pendapat, saran, dan pertimbangan atas prakarsa sendiri mengenai penguasaan, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada Pemerintah serta masyarakat untuk mencapai tujuan nasional.

"AIPI didirikan zaman 1991, peneliti hebat di sana sudah melihat bahwa nyamuk ber-Wolbachia ini lolos," katanya.

Selain itu, kata Budi, The Vector Control Advisory Group Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah mempersiapkan panduan pemanfaatan nyamuk ber-Wolbachia berdasarkan hasil analisa penelitian di Indonesia yang sudah dinyatakan lengkap.

"Saya sih nggak pernah lihat ada intervensi ide dari orang Indonesia yang masuk ke tataran dunia kecuali nyamuk ber-Wolbachia, yang lain saya belum tahu," katanya.

Wolbachia merupakan jenis bakteri untuk menekan replikasi virus dengue, zika, dan chikungunya dalam tubuh nyamuk Aedes Aegypti. Bakteri ini dapat diturunkan ke generasi berikutnya melalui jalur perkawinan nyamuk serta hanya hidup di tubuh serangga.

sumber : Antara

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement