Senin 13 Nov 2023 23:41 WIB

Sebulan Terakhir, Cuaca Ekstrem Dominasi Bencana di Sukabumi

Cuaca ekstrem menjadi bencana paling mendominasi di Kota Sukabumi.

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Muhammad Hafil
Waspada bencana hidrometereologi. Ilustrasi
Foto: ANTARA FOTO/Rahmad
Waspada bencana hidrometereologi. Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID,SUKABUMI--Cuaca ekstrem menjadi bencana paling mendominasi di Kota Sukabumi dalam sebulan terakhir. Pasalnya, peralihan musim dari kemarau ke musim hujan atau pancaroba berdampak pada bencana cuaca ekstrem.

''Pada bulan Oktober 2023, tercatat 25 kasus kejadian bencana dan cuaca ekstrem mendominasi,'' ujar Kepala Pelaksana. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi, Novian Rahmat Taufik, Senin (13/11/2023). Dari 25 kejadian, bencana cuaca ekstrem terjadi sebanyak 11 kali.

Baca Juga

Di susul kejadian kebakaran lahan sebanyak tujuh kali dan kebakaran permukiman 6 kali kejadian serta bencana banjir sebanyak 1 kali kejadian. Penyebab terjadinya cuaca ekstrem dikarenakan pada bulan tersebut anomali cuaca yang memasuki puncak musim pancaroba.

''Bulan Oktober, jumlah jiwa yang terdampak sebanyak 50 jiwa dan berdampak kepada 19 unit bangunan serta 1 unit bangunan pendidikan mengalami rusak,'' ungkap Novian. Dengan taksiran nilai kerugian sebesar Rp 657.600.000 dengan 5,0331 hektare terdampak.

 

Bila dihitung selama kurun waktu Januari hingga Oktober 2023 kata Novina, secara agregat jumlah peristiwa yang terjadi di tujuh kecamatan mencapai 149 kasus. Data ini didasarkan dari Sistem Informasi Elektronik Data Bencana (SiEdan) yang dihimpun BPBD Kota Sukabumi, pada awal Triwulan IV mulai 1 Januari sampai dengan 31 Oktober 2023.

''Akibat kejadian tersebut ditaksir nilai kerugian mencapai Rp 5.717.475.000,'' cetus Novian. Dengan luas area terdampak 14.2102 hektare dan 105 kepala keluarga (KK) terdampak yang terdiri atas 120 orang.

Akibat bencana tersebut terang Novian, tercatat satu orang mengalami luka berat dan delapan orang luka ringan. Selain itu menyebabkan sebanyak 149 unit bangunan rusak yakni 14 unit rusak berat, 36 unit rusak sedang dan 110 unit rusak ringan.

Novian menuturkan, September merupakan bulan dengan frekuensi bencana tertinggi yang dilaporkan masyarakat yakni sebanyak 37 kasus. Disusul bulan Maret dan Oktober 25 kasus, dan bulan Februari 16 kasus.

Kemudian bulan Mei 11 kasus, bulan Juni 10 kasus, Juli 8 kasus, Agustus 6 kasus dan terendah bulan Januari 1 kasus. Cuaca ekstrem kata Novian paling mendominasi yakni 38 kali, disusul kebakaran permukiman dan kebakaran lahan masing-masing sebanyak 33 kali, tanah longsor sebanyak 30 kali, kemudian disusul banjir sembilan kali dan terendah angin topan/beliung enam kali.

Lebih lanjut Novian merinci wilayah tertinggi kejadian bencana ada di Kecamatan Cikole sebanyak 29 kali, yang berasal dari Kelurahan Cisarua 15 kasus. Berikutnya Kecamatan Lembursitu 26 kasus dengan terbanyak di Kelurahan Cikundul tujuh kali.

Berikutnya di Kecamatan Warudoyong 25 kasus dengam Kelurahan Benteng terbanyak delapan kali. Lalu Kecamatan Kecamatan Gunungpuyuh 22 kasus yang berasal dari Kelurahan Karangtengah sembilan kali.

Disusul kemudian, Kecamatan Citamiang 21 kali yang berasal dari Kelurahan Gedong Panjang dan Citamiang enam kasus dan Kecamatan Baros 19 kasus berasal dari Kelurahan Jayamekar dan Sudajaya Hilir enam kali. Terendah di Kecamatan Cibeureum tujuh kasus berasal dari Kelurahan Babakan tiga kali.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement