Senin 06 Nov 2023 22:58 WIB

Di Silaknas ICMI, Anies Dipanggil 'Pak Presiden'

Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Prof Nanat Fatah Natsir memanggil Anies "Presiden".

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Gita Amanda
Bakal calon presiden Anies Rasyid Baswedan (kanan) berswafoto dengan relawan saat melakukan safari politik di Makassar, Sulawesi Selatan, Ahad (5/11/2023). Selain bertemu dengan para relawan, dalam kunjungannya Anies Baswedan juga menghadiri forum Silaturahmi dan Rapat Kerja Nasional (Silatnas) Ikatan Cendekia Muslim Indonesia (ICMI).
Foto: ANTARA FOTO/ARNAS PADDA
Bakal calon presiden Anies Rasyid Baswedan (kanan) berswafoto dengan relawan saat melakukan safari politik di Makassar, Sulawesi Selatan, Ahad (5/11/2023). Selain bertemu dengan para relawan, dalam kunjungannya Anies Baswedan juga menghadiri forum Silaturahmi dan Rapat Kerja Nasional (Silatnas) Ikatan Cendekia Muslim Indonesia (ICMI).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada momen unik saat Calon Presiden Anies Baswedan menjadi pembicara di Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI). Anies sempat dipanggil Pak Presiden oleh penanya.

Hal itu terjadi saat sesi tanya jawab, tepatnya setelah Anies diberikan kesempatan untuk memaparkan visi-misi sebagai capres di 2024. Pertama, disampaikan Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI, Prof Didin S Damanhuri.

Baca Juga

Setelah itu, ada Wakil Ketua Dewan Pakar ICMI Prof Nanat Fatah Natsir yang menyampaikan pertanyaan. Namun, saat bertanya, Prof Nanat memanggil capres dari Koalisi Perubahan itu dengan sebutan Pak Presiden.

"Terima kasih, Pak Anies, Pak Presiden Republik Indonesia," kata Nanat, Ahad (5/11/2023) lalu.

 

Hal itu langsung disambut tepuk tangan meriah dari peserta-peserta yang hadiri Silaknas ICMI di Makassar. Anies sendiri tampak tersenyum kecil setelah mendengar Prof Nanat memanggilnya dengan sebutan Pak Presiden.

Saat menjawab, Anies menuturkan, akhir-akhir ini teknokrat dan proses teknokrasi tidak diletakkan di depan dalam penyusunan kebijakan dari pemerintah. Malah, seringkali proses politik yang malah dikedepankan.

"Jadi, ke depan, saya melihat ilmu pengetahuan harus dikembalikan menjadi kompas di dalam menyusun kebijakan-kebijakan," ujar Anies.

Menurut Anies, pandemi kemarin merupakan wake up call yang seharusnya dijadikan momentum mengembalikan itu semua. Sebab, saat itu merupakan ujian semua pemegang kewenangan, tidak cuma di Indonesia tapi dunia.

Anies merasa, saat pandemi itu semua memiliki kesempatan menilai mana pemegang kewenangan yang menggunakan ilmu pengetahuan dan mana yang merendahkan pengetahuan. Sebab, semua dihadapkan tabir ketidaktahuan.

Saat berhadapan tabir ketidaktahuan, ia merasa, paling gampang merujuk kepada ilmuwan. Namun, Anies menyayangkan, ada pemegang kekuasaan lebih tinggi yang tidak mau menggunakan rekomendasi yang digunakan ilmuwan.

"Maka itu, kami melihat, ke depan hormati teori, hormati ilmu pengetahuan dan tidak boleh lagi pemimpin mengatakan ah itu teori yang penting pekerjaannya selesai," kata Anies.

Yuk gabung diskusi sepak bola di sini ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement