Jumat 03 Nov 2023 22:25 WIB

BMKG: Potensi Tsunami Akibat Megathrust di Selatan Jawa akan Terus Ada

Hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi kapan gempa terjadi.

Ilustrasi gempa di Indonesia
Ilustrasi gempa di Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengatakan potensi gempa megathrust yang memicu tsunami akan terus ada di bagian selatan Pulau Jawa.

"Megathrust akan terus ada, enggak akan berakhir potensi ini. Potensi tsunami lengkap kita punya banyak sekali tide gauge (alat pengukur ketinggian level air, Red) yang bekerja sama Badan Informasi Geospasial/BIG," kata Daryono ditemui usai acara dialog di BMKG, Jakarta, Jumat (3/11/2023).

Baca Juga

Dia mengatakan, tide gauge yang banyak dipasangkan di selatan pulau Jawa untuk mendeteksi secara dini tsunami apabila terjadi. "Jadi tide gauge kita ini ada di selatan Jawa. Tapi yang pasti sudah kelilingi dengan tide gauge tersebut untuk konfirmasi potensi semua itu ada," ujarnya.

Daryono menambahkan tide gauge memudahkan pemerintah daerah (pemda) yang memiliki warning system bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menentukan status kesiagaan bencana sehingga dapat segera mengevakuasi masyarakat.

 

"Mereka (pemda) punya sirine langsung jadi bisa langsung berkoordinasi dengan BMKG untuk segera menetapkan status kebencanaan sehingga dapat memerintah proses evakuasi ke masyarakat," kata dia.

Daryono menegaskan yang pasti potensi megathrust itu ada, bukti sejarahnya ada. "Sumbernya ada, aktivitasnya ada, dan itu jadi ancaman nyata," ujarnya.

Megathrust adalah daerah pertemuan antarlempeng tektonik Bumi di lokasi zona subduksi. Lempeng tektonik Bumi bisa mencapai ribuan kilometer dan menjadi dasar benua dan samudra. Pelat-pelat ini bertabrakan, meluncur, dan bergerak menjauh satu sama lain.

Terkadang lempeng tersebut bertabrakan satu sama lain atau satu lempeng didorong ke bawah lempeng yang lain di zona subduksi. Dengan kata lain, zona subduksi adalah zona pertemuan lempeng-lempeng tersebut. Jika sejumlah lempeng tektonik bertemu, maka gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, dan tanah longsor yang kuat dapat terjadi.

Catatan sejarah tsunami di Selat Sunda...

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement