Jumat 06 Oct 2023 23:32 WIB

Mahasiswa STMIK AMIK Bandung Kembangkan Teknologi Penyiraman Berbasis IoT

Meski bukan yang pertama, mahasiswa STMIK menyempurnakan teknologi penyiraman

Mahasiswa STMIK AMIK Bandung mengembangkan teknologi penyiraman tanaman berbasis Internet of Thing (IoT) yang dikendalikan jarak jauh lewat gawai. Teknologi ini diaplikasikan ke pertanian secara real dan terbukti mampu menekan potensi kerugian petani.
Foto: dok STMIK AMIK Bandung
Mahasiswa STMIK AMIK Bandung mengembangkan teknologi penyiraman tanaman berbasis Internet of Thing (IoT) yang dikendalikan jarak jauh lewat gawai. Teknologi ini diaplikasikan ke pertanian secara real dan terbukti mampu menekan potensi kerugian petani.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mahasiswa STMIK AMIK Bandung mengembangkan teknologi penyiraman tanaman berbasis Internet of Thing (IoT) yang dikendalikan jarak jauh lewat gawai. Teknologi ini diaplikasikan ke pertanian secara real dan terbukti mampu menekan potensi kerugian petani.

Mahasiswa STMIK AMIK Bandung Rizal yang mengembangkan teknologi penyiraman tanaman ini mengatakan, apa yang dikerjakannya memang bukan yang pertama di Indonesia. Meski demikian dia menjadikan teknologi itu semakin sempurna untuk dimanfaatkan.

“Saya menambahkan adanya pengukur kelembaban tanah dan suhu areal persawahan, sehingga penggunaan air lebih efisien,” kata Rizal dalam keterangannya, Jumat (5/10/2023). 

Selain menjadikan penggunaan air lebih efisien, dipasangnya pengukur kelembaban tanah dan suhu areal persawahan menjadikan teknologi penyiraman tanaman ini mampu menekan potensi kerugian petani. 

Pemberian air yang tepat secara waktu dan ukuran kebutuhannya menjadikan tanaman tidak mudah diserang hama atau mati sebelum tumbuh.Teknologi itu, sudah diaplikasikan di kawasan pertanian cabe di Garut, Jawa Barat. 

“(Tanaman) cabe itu sangat mudah mati di awal penanaman. Tapi dengan pemberian air yang tepat, baik jumlahnya maupun waktunya, terbukti yang di Garut tidak mudah mati,” ungkapnya.

Dosen Augmented Reality di prodi Teknologi Informasi STMIK AMIK Bandung Ali Surya Perdana Agus menambahkan, teknologi yang dikembangkan mahasiswanya bisa diaplikasikan secara lebih luas dengan dukungan Pemerintah. 

Meski demikian masih diperlukan edukasi lebih dalam ke kalangan petani karena kondisi gagap teknologi yang ada di sebagian besar petani di Indonesia. “Jika edukasinya berjalan baik dan petani bisa mengaplikasikan teknologi ini, kerja mereka lebih efisien seperti di Jepang. Penyiraman tanaman bisa dikontrol jarak jauh sehingga petani memiliki waktu lebih banyak aktivitas pertanian lainnya,” kata Ali.

Ketua Panitia Penyelenggara SABOTAGE Let’s Get SAB! M. Ammaru Dzafa, mengatakan event itu bertujuan menyosialisasikan ragam prodi yang ada di STMIK AMIKBandung, setelah proses akreditasi terbaru selesai dilakukan. 

Kampus yang baru alih kelola pada 2019 kini telah mengantongi hasil akreditasi dengan penilaian baik sekali.

“Lewat event ini kami ingin mengenalkan ragam prodi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini, sekaligus menunjukkan ke masyarakat bahwa STMIK AMIKBandung sudah mengantongi akreditasi dengan penilaian baik sekali,” jelas dia.

Dzafa menambahkan, selain Teknologi Informasi dengan konsentrasi IoT dan Artificial Intelligence (AI), STMIK AMIKBandung juga memiliki prodi Bisnis Digital, Geographic Information System (GIS) dan Desain Komunikasi Visual (DKV).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement