Jumat 22 Sep 2023 15:01 WIB

Mahfud MD Pilih Diam Saat Ditanya Soal G30S/PKI

Menurut Mahfud, sejak merdeka, pemerintah RI terus melakukan pengentasan kemiskinan.

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Erik Purnama Putra
Menko Polhukam Mahfud MD saat ditemui di Jakarta, Jumat (22/9/2023).
Foto: Dok Baznas
Menko Polhukam Mahfud MD saat ditemui di Jakarta, Jumat (22/9/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menutup secara resmi agenda Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2023 dengan tema 'Integrasi Pengelolaan Zakat dengan Prinsip 3A: Aman Syar'i, Aman Regulasi dan Aman NKRI' di Jakarta, Jumat (22/9/2023).

Dalam kesempatan itu, Mahfud menyampaikan, sejak kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pemerintah RI terus melakukan pengentasan kemiskinan. Hal itu dibarengi angka kemiskinan di Indonesia terus mengalami penurunan.

"Ketika Indonesia belum merdeka, rakyat Indonesia 95 persen itu miskin. Tetapi begitu NKRI ada, kemudian pada tahun 1965, jumlah orang miskin itu 56 persen. Berarti 40 persen orang Indonesia menjadi tidak miskin dalam waktu 20 tahun Indonesia merdeka," jelasnya.

Upaya pengentasan kemiskinan sudah dimulai sejak NKRI berdiri. Menurut eks ketua Mahkamah Konstitusi (MK) tersebut, pada era Presiden Soeharto selama 32 tahun, pemerintah mampu mengentaskan 35 persen kemiskinan. Alhasil, angka kemiskinan tinggal 18 persen.

Pada zaman reformasi, digenjot lagi sehingga angka kemiskinan pada akhir pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ada 2014, menjadi 11,7 persen. Kemudian angka terakhir kemiskinan kini era Joko Widodo (Jokowi) berkurang menjadi 9,3 persen.

Menurut Mahfud, NKRI sudah memberi kesempatan kepada umat Islam untuk memajukan umat. Dia juga menekankan bahwa di Indonesia tidak ada islamofobia, yang didefinisikan oleh dirinya sebagai kebijakan pemerintah yang anti-Islam.

"Mana ada (Islamofobia), sudah dibuatkan UU Pesantren. Didirikan UIN. Itu dari negara semua. Di mana islamofobianya. Islamofobia itu artinya pemerintah takut kepada Islam, benci Islam dan menindas Islam. Di Indonesia tidak ada," tuturnya saat memberikan pidato.

Seusai menutup acara tersebut, Mahfud keluar melalui pintu kiri ballroom. Dia berjalan menuju mobil dengan diiringi sejumlah pengawal. Kemudian Republika.co.id melontarkan pertanyaan tentang Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI), sebuah peristiwa kelam yang terjadi pada 30 September 1965.

Saat itu, sesuai skenario, PKI bersama kelompok militer melakukan gerakan untuk menggulingkan Presiden Sukarno. Korban dari peristiwa tersebut, di antaranya Jenderal Ahmad Yani, Letjen Siwondo Parman, dan Mayjen Donald Isaac Pandjaitan, hingga putri Jenderal Abdul Haris Nasution, Ade Irma Suryani.

Saat Mahfud diberikan pertanyaan terbuka mengenai G30S/PKI, ia diam dan menutup rapat-rapat bibirnya. Kemudian ketika pertanyaan lebih dirinci lagi, yaitu apakah tradisi komunisme masih ada di Indonesia pada saat ini. Mahfud juga tetap memilih diam dan terus berjalan menuju mobilnya.

Tarik menarik antara pengawal dan Republika.co.id yang hendak bertanya pun sempat terjadi. Mahfud enggan menanggapi hal tersebut dan langsung masuk ke dalam mobilnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement