Ahad 17 Sep 2023 10:53 WIB

Ada Kereta Cepat, Pengguna Mobil Pribadi akan Berkurang?

Kehadiran KCJB menjadi momen masyarakat beralih ke transportasi publik.

Kehadiran kereta cepat yang dikembangkan oleh perusahaan konsorsium antara dua negara itu, yakni PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), diyakini mampu memperlancar mobilitas Jakarta-Bandung/ilustrasi
Foto: Republika/Thoudy Badai
Kehadiran kereta cepat yang dikembangkan oleh perusahaan konsorsium antara dua negara itu, yakni PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), diyakini mampu memperlancar mobilitas Jakarta-Bandung/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA---Hari yang dinantikan akhirnya tiba pada pertengahan September 2023. Masyarakat umum akhirnya boleh menikmati Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) yang sudah dibangun sejak sekitar lima tahun silam.

Walaupun belum diresmikan oleh pemerintah, momen tersebut menjadi tonggak sejarah perkembangan infrastruktur Indonesia dan menandai awal era baru dalam transportasi antara dua kota besar, yaitu Jakarta dan Bandung.

Baca Juga

Dari berbagai sarana transportasi penghubung Jakarta dengan Bandung yang sudah ada, kehadiran KCJB itu menjadi momen bagi pemerintah untuk mengajak masyarakat beralih dari penggunaan kendaraan pribadi menuju transportasi publik, demi mengurangi kemacetan.

Presiden Joko Widodo mengatakan kemacetan yang terjadi di Jabodetabek dan Bandung menimbulkan kerugian ekonomi hingga mencapai Rp100 triliun.

 

Sehingga kehadiran kereta cepat yang dikembangkan oleh perusahaan konsorsium antara dua negara itu, yakni PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), diyakini mampu memperlancar mobilitas manusia dari Ibu Kota Jawa Barat menuju ke Ibu Kota Indonesia, atau sebaliknya.

Selain lebih lancar dan cepat, biaya yang digelontorkan oleh masyarakat dengan menggunakan KCJB pun tentu lebih efisien dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi. 

 

Pengguna mobil pribadi

Presiden ke-2 Indonesia Soeharto di era kepemimpinannya membangun jalan tol yang menghubungkan Jakarta dengan Bandung yang membuat perjalanan lebih singkat. Sebelumnya, perjalanan dua kota itu memakan waktu lebih dari tiga jam karena harus melewati Jalur Puncak, Bogor.

Kini, setelah ada jalan tol, perjalanan menggunakan mobil pribadi dari Bandung ke Jakarta atau sebaliknya, masyarakat mengeluarkan biaya untuk bahan bakar minyak (BBM) dan juga jalan tol.

Mobil pribadi rata-rata mengonsumsi satu liter BBM untuk sekitar 15 kilometer, sedangkan jarak antara Jakarta dengan Bandung itu berkisar 150 kilometer jika menggunakan jalan tol.

Dari perhitungan itu, maka mobil pribadi minimal membutuhkan 10 liter BBM untuk perjalanan Bandung-Jakarta, atau membutuhkan Rp100 ribu untuk BBM jenis Pertalite.

Meskipun demikian, angka itu tidak mutlak, sehingga anggap saja setiap mobil pribadi memerlukan biaya Rp 200 ribu untuk satu kali perjalanan Bandung-Jakarta maupun sebaliknya.

Selain itu, masyarakat juga perlu menggelontorkan biaya untuk tarif jalan tol. Rata-rata, biaya jalan tol yang perlu dikeluarkan untuk satu kali perjalanan Bandung-Jakarta maupun sebaliknya itu berkisar Rp70 ribu hingga Rp80 ribu untuk kendaraan pribadi Golongan I, tetapi anggap saja masyarakat perlu menyiapkan biaya Rp100 ribu untuk biaya lewat tol.

Jika ditotal, maka penggunaan kendaraan pribadi untuk satu kali perjalanan Bandung-Jakarta maupun sebaliknya itu memerlukan biaya sekitar Rp300 ribu.

Biaya itu tidak mutlak karena beragam faktor juga bisa menyebabkan biaya yang dikeluarkan menjadi berlebih, salah satunya kemacetan yang bisa membuat konsumsi BBM lebih banyak.

Erik Setiawan, salah satu pegawai yang biasa melakukan perjalanannya dari Bandung ke Jakarta mengaku biasa mengisi BBM jenis Pertalite sebanyak Rp200 ribu untuk sekali perjalanan.

Dia mengatakan kantor tujuannya itu berada di kawasan Jakarta Pusat. Maka dia pun biasa menggunakan jalan tol, mulai dari memasuki Gerbang Tol Pasteur di Bandung dan keluar di Gerbang Tol Cempaka Putih di Jakarta. Karena itu biasanya dia menyiapkan Rp120 ribuan dalam sekali jalan dengan melewati jalan tol.

Perjalanan menggunakan mobil pribadi dari Bandung ke Jakarta pun sangat bergantung pada kondisi lalu lintas, baik di jalan tol maupun ruas jalur arteri di dua kota tersebut. Apabila dalam kondisi lancar, perjalanan biasanya membutuhkan waktu 2,5 jam hingga 3 jam perjalanan.

 

Menembus waktu

Dari adanya beragam variabel yang menentukan biaya serta waktu tempuh perjalanan antara dua kota besar itu, kereta cepat merupakan teknologi terbaru yang bisa menjadi opsi guna mengatasi tantangan-tantangan tersebut.

Transfer teknologi dari negeri Tirai Bambu itu, seperti menghadirkan sebuah teknologi yang menembus waktu. Pasalnya kereta cepat itu mampu memindahkan manusia dari Bandung ke Jakarta dengan waktu hanya sekitar 40 menit, dengan kecepatan maksimum 350 kilometer per jam.

Pada Jumat (15/9), masyarakat yang tinggal di sekitar jalur kereta cepat boleh menikmati teknologi itu secara gratis. Kegiatan itu pun digelar oleh PT KCIC sebagai operator, dalam rangka uji coba operasional setelah diberi izin oleh Kementerian Perhubungan.

Menurut PT KCIC proses uji coba penumpang tidak berbayar tersebut bakal berlangsung hingga 30 September 2023.

Setiap harinya akan terdapat empat jadwal keberangkatan dengan mekanisme setiap penumpang akan mendapatkan perjalanan pulang pergi (PP) Halim-Tegalluar dan sebaliknya.

Sehingga secara total setiap harinya terdapat delapan perjalanan KA Cepat. Selama masa uji coba setiap harinya akan disediakan sekitar 2.200 tempat duduk untuk penumpang.

Handy Marselino, salah seorang mahasiswa yang berdomisili di Kota Cimahi, mendapat kesempatan untuk menjajal kereta cepat pada Sabtu (16/9) pagi. Dia pun mengaku takjub karena mampu bolak-balik dari Bandung dan Jakarta hanya dalam tempo sekitar dua jam. "Awal-awal (saat proyek KCJB dibangun) saya mikir ya biasa aja, ya udah gitu. Tapi setelah tadi naik, perasaan saya yang pertama itu Indonesia jadi keren karena punya kereta cepat," kata Handy.

Menurut dia, kecepatan laju kereta cepat itu diiringi juga oleh kenyamanan. Karena saat kereta itu melaju secepat 350 kilometer per jam sangat minim goyangan.

Senada dengan Handy, seorang ibu paruh baya yang berdomisili di sekitar Stasiun Tegalluar, yakni Desi Wahyuning, mengaku perjalanan menggunakan kereta cepat menuju Jakarta itu sangat singkat.

"Pas saya coba tadi terasa banget tarikan pas awal berangkat, tapi waktu udah ngebut 350 kilometer per jam itu sangat stabil, nggak ada goyangan," kata Desi.

Ibu rumah tangga itu mengaku kereta cepat itu akan cocok untuk orang-orang bisnis yang membutuhkan mobilitas cepat.

Pada Agustus 2023, PT KCIC menyatakan bahwa harga tiket kereta cepat Jakarta – Bandung untuk operasi awal akan ditawarkan Rp250 ribu.

Sehingga penggunaan KCJB patut diperhitungkan untuk menggantikan peran kendaraan pribadi yang berpotensi memakan biaya sebesar Rp300 ribu, bahkan lebih, untuk sekali jalan.

Keberadaan kereta cepat merupakan wujud negara hadir untuk masyarakat yang membutuhkan waktu cepat, dengan biaya lebih murah dibandingkan dengan menggunakan mobil pribadi.

 

sumber : Antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement