Senin 21 Aug 2023 20:03 WIB

Pengamat: PDIP Mulai Kritik Food Estate karena Jokowi tak Total Dukung Ganjar

Kritik terhadap food estate dinilai bukan hanya untuk menggembosi Prabowo.

Rep: Febrian Fachri/ Red: Teguh Firmansyah
Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat meninjau lahan yang akan dijadikan Food Estate atau lumbung pangan baru di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Kamis (9/7/2020). Pemerintah menyiapkan lumbung pangan nasional untuk mengantisipasi krisis pangan dunia.
Foto: ANTARA/Hafidz Mubarak A
Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto saat meninjau lahan yang akan dijadikan Food Estate atau lumbung pangan baru di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, Kamis (9/7/2020). Pemerintah menyiapkan lumbung pangan nasional untuk mengantisipasi krisis pangan dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Pengamat politik Universitas Andalas, Najmuddin Rasul, mengatakan, sikap PDIP melalui Sekretaris Jenderal, Hasto Kristiyanto, mulai melancarkan kritik terharap proyek food estate yang ditangani Kementerian Pertahanan tidak hanya sekedar untuk menggembosi elektabilitas Prabowo Subianto.

Menurut Najmuddin, kritik tersebut juga dimaknai sebagai teguran untuk Presiden Joko Widodo yang bermain dua kaki dan tidak total mendukung capres partai mereka yakni Ganjar Pranowo.

Baca Juga

“Kritikan Hasto ini kalau dilihat dari komunikasi politik, ada kesan bahwa, pertama, Megawati kecewa dengan sikap politik Jokowi yang tidak full mendukung Ganjar Pranowo sebagai Bacapres dari PDIP,” kata Najmuddin, Senin (21/8/2023).

Najmuddin menilai isu food estate sebagai proyek gagal disambut dengan riuh oleh kompetitor politik dan kelompok oposan yang berada di luar pemerintahan Jokowi. Mereka menjadikan isu ini sebagai tambahan amunisi politik untuk menurunkan elektabilitas Prabowo.

Menurut Najmuddin, kini banyak muncul pertanyaan publik kenapa Jokowi cenderung mendukung Prabowo yang didukung Golkar, PAN, PKB dan Gerindra daripada mendukung Bacapres PDIP. “Saya melihat salah satu faktor yang membuat Jokowi terpikat dengan Prabowo. Pertama, Prabowo terang-terangan pendukung dan pencinta Jokowi. Kedua, dengan tegas Prabowo mengatakan bahwa jika terpilih sebagai presiden dia akan melanjutkan agenda Jokowi,” ucap Najmuddin

Alasan ketiga, lanjut dia, karena ada ketakutan Jokowi ditinggalkan Golkar, PAN, PKB dan Gerindra. Jokowi akan kelabakan bila partai-partai tersebut menarik kadernya keluar dari kabinet pemerintahan. Karena bila partai-partai tersebut menarik kadernya keluar dari kabinet, stabilitas pemerintahan Jokowi akan terganggu jelang masa akhir jabatannya.

Sebelumnya, proyek food estate atau lumbung pangan yang dikerjakan pemerintahan Jokowi ini mendapatkan kritikan dari Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto. Hasto menyebut gagalnya proyek food estate merupakan bagian dari kejahatan lingkungan. Sebab program pertanian berskala besar itu didahului dengan penggundulan hutan. Diduga kritik food estate yang disampaikan Hasto untuk menyerang Prabowo Subianto. 

Program food estate tercatat digagas oleh Presiden Jokowi pada awal periode kedua kepemimpinannya. Proyek Strategis Nasional (PSN) itu tertera dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024.

Proyek sentra produksi pangan ini dilaksanakan di sejumlah provinsi seperti Sumatra Utara, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Selatan. Untuk menggarapnya, Jokowi memerintahkan sejumlah kementerian Kementerian Pertanian yang dipimpin politisi Partai Nasdem, Syahrul Yasin Limpo, ditugaskan sebagai leading sector proyek tersebut. Sedangkan, Kementerian Pertahanan yang dikomandani oleh Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menjadi backup dan fokus mengurus lahan singkong.

 

febrian fachri 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement